Tuesday, February 7, 2012

Lan Fang Di Mata Sahabat


(Kiri: Pak Budi Santosa, Bu-Pak Tedja, CM, dan Lan Fang, saat di Tretes, Pasuruan).

Lan Fang adalah sosok yang tulus, terbuka dan apa adanya ketika bergaul antar sesama. Itulah kesan pribadi saya selama berinteraksi dengan Lan Fang, terutama ketika proses menulis untuk sebuah buku profil salah satu sekolah Tionghoa di Surabaya. Namun setelah itu, saya agak jarang berinteraksi langsung. Dan ternyata, saya tiba-tiba dikejutkan berita kondisinya sakit liver dari Pak Budi Santosa. Dan lalu meninggalkan kita semua.

Hal ini mengingatkan saya ketika Gus Dur wafat, Lan Fang menulis artikel berjudul “Imlek Tanpa Gus Dur”. Barangkali psikologi sosial warga Tionghoa di moment imlek 2012 ini merayakan imlek tanpa Lan Fang. Tepat 25 Desember 2011 lalu, salah satu sastrawan perempuan Tionghoa asal Surabaya, Lan Fang, meninggal dunia, di Rumah Sakit Mounth Elizabeth Singapura. Meninggalnya Lan Fang tepat saat umat Kristiani merayakan Natal tahun 2011. Sehingga diliputi suasana duka mendalam bagi masyarakat Surabaya khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.


Kepergian Lan Fang, sapaan akrab Go Lan Fang, meninggalkan tiga anak kembar. Ketiga anak Lan Fang tersebut berusia 14 tahun dan saat ini masih duduk di kelas II SMP. Sebagai bentuk solidaritas yang tinggi dari warga Tionghoa, ketiga anak Lan Fang tersebut (akan) dijamin biaya pendidikan dan keperluan lainnya oleh Bapak Budi Santosa, Keluarga Besar Marga Go dan Perhimpunan INTI Jatim. (Namun menurut informasi terbaru dari Pak Budi Santosa, bahwa pihak keluarga almarhum dengan hormat dan rasa terimakasih menolak untuk menerima santunan tersebut).

Lan Fang berpulang setelah terserang kanker hati yang dideritanya cukup lama, namun "ditahan sendiri" dan "dirahasiakannya". Dari Singapura, jenazah Lan Fang langsung disemayamkan di Rumah Duka Adi Jasa, Surabaya. Para pelayat dari sejumlah kalangan pun berdatangan silih berganti untuk mengenangnya.

Dahlan Iskan, Mantan CEO Jawa Pos yang saat ini sebagai Menteri BUMN, turut berduka yang disampaikan melalui salah satu koran di Surabaya. Demikian pula Budi Darma, Guru Besar UNESA, yang merasakan kehilangan sastrawan perempuan Tionghoa di negeri ini.

Budi Santosa, pengusaha Tionghoa dan sesepuh Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur, menyatakan sangat kehilangan penulis yang amat dekat dengan berbagai kalangan agama dan suku maupun organisasi di Jatim. Sebagaimana diketahui, Lan Fang telah menerbitkan beberapa novel, di antaranya: Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Perempuan Kembang Jepun (2006), Yang Liu (2006), laki-laki Yang Salah (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), Lelakon (2007) dan Ciuman Di Bawah Hujan (2010). Ibu tiga anak ini semasa hidupnya juga pernah menjadi nominasi Khatulistiwa Award tahun 2008 untuk novelnya Lelakon. Selain itu cerpen-cerpennya juga masuk dalam 20 cerpen Terbaik Indonesia versi Anugerah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, mengatakan sosok dan karya sastrawan Lan Fang adalah inspirasi bagi semua orang. "Tidak ada alasan meragukannya. Lan Fang adalah inspirasi kita semua. Karya-karya maupun kepribadiannya sangat istimewa" ujarnya.

Menurut Sidharta Adhimulya, Koordinator Jaringan Intelektual Tao Liberal Indonesia, Lan Fang adalah pahlawan sejati Tionghoa di Indonesia, tetapi selama ini kurang mendapat perhatian dari kalangan Tionghoa.

Sementara itu, Aliptojo Wongsodihardjo, Ketua Kehormatan Perhimpunan INTI Jatim, selain seniman, ibu tiga anak ini ternyata juga banyak berkecimpung di kegiatan sosial. Berkat keaktifannya di berbagai bidang, tidak heran jika akhirnya Lan Fang dikenal banyak kalangan. "Lan Fang itu orang yang hebat. Bagi kami, dia teladan pembauran," ujar Ketua Kehormatan Perhimpunan Indonesia Tionghhoa (INTI), Aliptojo Wongsodihardjo.

Tofan Hidayat juga mengakui bahwa Lan Fang bisa diterima di semua kalangan. Tidak hanya mereka yang sama-sama Tionghoa, tetapi juga non Tionghoa bahkan di kalangan pesantren. “Lan Fang telah menunjukkan pembauran yang total semasa hidupnya” imbuhnya.

Menariknya, Prof. Nur Syam, Rektor IAIN Sunan Ampel menyatakan bahwa Lan Fang adalah “Humasnya” IAIN Surabaya. “Saya nyatakan Humas karena Lan Fang sering menjadi perantara kepada dunia wartawan atau sesama face booker untuk memberitakan tentang apa saja yang terjadi di kampus IAIN Surabaya” ungkap Nur Syam.

Di mata sahabat dan masyarakat Jawa Timur, Lan Fang adalah pahlawan. Untuk mengenang jasa dan perannya di masyarakat, sejumlah tokoh dari berbagai bidang menyemarakkan Festival Lan Fang di Kampoeng Media Suara Surabaya, Jalan Wonokitri Besar, Surabaya. Menurut Rully Anwar, penggagas festival, acara yang digelar komunitas ’Sahabat Lan Fang’ ini merupakan penanda dimulainya Festival Lan Fang hingga 11 Maret mendatang. Rully menambahkan bahwa sejumlah rangkaian kegiatan untuk mengenang Lan Fang, antara lain parade tokoh bacakan karya Lan Fang, diskusi, pembacaan puisi, musikalisasi, bedah novel, dan beberapa kegiatan lain.

“Puncaknya, pada 11 Maret 2012 atau bertepatan dengan hari kelahiran Lan Fang, akan digelar pameran lukisan, seni rupa, foto, penjualan buku karya Lan Fang, penyuluhan dan konsultasi kanker serviks dan payudara, serta pemutaran video Lan Fang” imbuhnya.

Semoga apa yang telah dilakukan selama ini, Lan Fang bisa dijadikan salah satu teladan bagi semuanya, khususnya dalam berbaur dengan semua kalangan dan selalu berusaha berkarya yang bermanfaat bagi orang lain. Salam damai....


Baca selengkapnya klik di sini.....

Friday, January 13, 2012

Xin Nian Kuai-Le Gong Xi fa Cai





Kami sekeluarga mengucapkan Xin Nian Kuai-Le Gong Xi fa Cai. Wan Se Ru Yi, Sen Thi Cien Khang.

Baca selengkapnya klik di sini.....

Wednesday, January 11, 2012

Belajar Mengenal Budaya Imlek Tionghoa di Mal

Tak kenal maka tak sayang. Cara mengenal yang baik adalah adanya keinginan untuk terus belajar. Belajar budaya Tionghoa tidak harus pergi ke negeri China. Tetapi bisa datang ke Mal di setiap saat perayaan Imlek tiba. Itulah salah satu cara mudah untuk mengenal budaya Tionghoa, khususnya budaya Imlek bagi warga kota di negeri ini.

Sebagaimana diketahui bahwa mal kini menjadi ikon dan simbol suatu kota. Di Surabaya dari pojok utara-selatan hingga barat-timur dan tengah, tak lepas dari jangkauan Mal. Bahkan Mal kini terus menjamur di mana-mana. Beberapa Mal di Surabaya yang bisa kita kunjungi antara lain: Tunjungan Plaza, ITC Mega Grosir, Grand City Surabaya, Ciputra World, Pakuwon Trade Center, Galaxy Mall, Royal Plaza, Sutos, Cito dan lain sebagainya.

Dalam konteks ini, Mal dan pasar bisa difungsikan sebagai media pembelajaran. Usaha untuk mengenal dan mempelajari budaya Tionghoa tidak harus melulu via buku, tetapi juga bisa dengan media lain, seperti pasar dan Mal. Mal menginspirasi dan memudahkan masyarakat kota untuk lebih dekat dan kenal budaya Imlek di tanah air.


Tahun 2012 ini, perayaan Imlek 2563 kembali terlihat semarak di mana-mana. Di Surabaya, perayaan Imlek bisa dinikmati di mal-mal sebagaimana tersebut di atas. Dengan hanya berkunjung dan jalan-jalan ke pasar atau Mal, seolah kita sudah berkunjung ke negeri China. Pasalnya, saat perayaan Imlek, pesona Mal telah disulap sedemikian rupa hingga menjadi warna-warni.

Ya, hampir semua Mal di Kota Pahlawan berlomba memasang dekorasi dengan hiasan dan pernik-pernik bernuansa oriental Tiongkok. Di mana-mana, bertebaran lampion dan pohon Mei Hwa, serta gambar dan foto lukisan Naga. Warna merah, emas juga cukup mencolok, bahkan mendominasi suasana.

Melalui Mal, kita bisa belajar apa saja. Setidaknya kita akan mengenal dan belajar beberapa hal tentang tradisi Imlek Tionghoa. Misalnya lampion merah. Selama perayaan Tahun Baru Imlek, lampion merah biasanya digantung di Mal, rumah dan tempat lain sebagai simbol keberuntungan. Kita juga bisa mengenal istilah angpao, yaitu sebuah bingkisan atau hadiah berupa amplop kecil berwarna merah berisi sejumlah uang.

Tak ketinggalan, dari Mal kita juga bisa melihat pertunjukan Barongsai dan event menarik lainnya terkait perayaan budaya dan tradisi Tionghoa di negeri ini. Hampir setiap tahun pertunjukan dan kejuaraan Barongsai dihelat di Mal, diantaranya bisa dilihat di Atrium ITC Mega Grosir Surabaya.

Tak hanya itu, di Mal kita akan menjumpai pernak-pernik Shio. Dalam tradisi dan budaya Tionghoa, dikenal adanya istilah Shio. Pada Imlek 2563 ini, kebetulan shio-nya adalah Shio Naga Air. Dalam tradisi budaya Tionghoa, shio ini melambangkan kekuatan, kebaikan, keberanian, dan pendirian yang teguh. Naga juga memiliki lambang kewaspadaan dan keamanan dari semua makhluk dalam mitologi China. Bahkan, naga dianggap sebagai makhluk yang tertinggi menjadi raja semua hewan di alam semesta. Sehingga dalam agama Konghucu Naga merupakan mahluk sakral, atau sebagai simbol binatang yang paling kuat. Untuk itulah naga selalu ada pada setiap tiang Klenteng, terutama pada tiang tempat sembahyang Dewa Langit.

Tentu kita boleh berharap dalam Shio Naga Air tahun ini tidak hanya kesuksesan pebisnis yang hanya berhubungan dengan unsur air saja, seperti transpotasi air, restoran sampai pedagang air minum isi ulang. Tapi Naga Air ini dapat menjernihkan, mendinginkan berbagai permasalahan sosial politik yang terjadi di tanah air.

Secara lengkap, Shio dalam penanggalan China terbagi menjadi 12 shio. yaitu Tikus, Harimau, Naga, Kuda, Monyet, Anjing, Kerbau, Ular, Kambing, Ayam, Kelinci dan Babi. Shio yang dilambangkan dari hewan atau binatang tersebut mencerminkan sifat dan simbol suatu masa tertentu. Dalam budaya Tionghoa, Shio tersebut masih terbagi lagi menjadi 5 unsur, yaitu: logam, kayu, air, api dan tanah. Pertemuan pada shio dan unsur yang sama bisa terjadi 60 tahun kemudian. Setiap pergantian shio itu disebut Tahun Imlek yang jatuh pada tanggal satu bulan pertama. atau tahun lunar, tahun yang dihitung berdasarkan peredaran bulan, dan dikombinasikan dengan peredaran matahari dan pergantian dari musim dingin ke musim semi.

Sehingga tidak aneh jika penanggalan Imlek, dalam sejarahnya, banyak digunakan para nelayan dan petani. Kalender Imlek juga disebut Nungli atau kalender untuk petani karena Imlek selalu jatuh pada musim tanam atau ketika curah hujan tinggi dan tanah siap digarap. Pergantian ini disambut dengan perayaan Imlek. Demikian pula di Indonesia, Imlek dirayakan sebagai bagian dari simbol menjalin kebersamaan dan berbagi antar sesama. Akhirnya, selamat tahun baru Imlek 2563. Gong Xi Fa Cai–Wan Se Ru Yi, Sen Thi Cien Khang.***

Choirul Mahfud, penulis adalah pegiat multikulturalisme di Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Surabaya.

Baca selengkapnya klik di sini.....

Saturday, December 3, 2011

Budaya Tionghoa Di Simpang Jalan?


Budaya Tionghoa di Indonesia kembali diperbincangkan. Kali ini, Center for Chinese Indonesian Studies UK Petra Surabaya bekerja sama dengan CCCL dan Yayasan Caraka Mulia yang menggelar acara bincang-bincang tersebut. Topiknya "Budaya Tionghoa di Indonesia".

Meskipun sederhana, acara yang dihelat di ruang Salle France–CCCL Jalan Dinoyo 10, Surabaya, berjalan sukses dan menarik antusiasme publik. Karena menghadirkan pakar Tionghoa yang cukup senior, yakni Claudine Salmon dan Myra Sidharta.

Secara mengejutkan, Pakar studi China dari Prancis Claudine Salmon, mengatakan bahwa asal usul sistem penanggalan China (terutama berkaitan dengan angka tahunnya) merupakan salah satu kontribusi masyarakat Tionghoa Surabaya. Peserta yang hadir pun terpana dan semakin serius menyimak ulasannya.

Claudine mengatakan bahwa keyakinan tersebut berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya di sejumlah titik atau sentra kebudayaan Tionghoa di Kota Pahlawan. Diantaranya berlokasi di Rumah Abu, Jalan Karet dekat Kembang Jepun. Anehnya, kata Claudine, sampai sekarang masyarakat Tionghoa di Surabaya terutama kaum muda justru banyak yang tidak tahu-menahu tentang asal-usul imlek yang sebenarnya. “Saya tidak mengetahui kenapa kaum muda Tionghoa kurang tertarik dengan budaya dan tradisi Tionghoa” tanya Claudine.

Aditya Nugraha, peneliti CCIS UK Petra juga membenarkan, kini animo masyarakat Tionghoa di usia muda yang mempelajari sejarah dan kebudayaannya semakin berkurang. “Kemungkinan besar karena sangat gencarnya budaya Barat masuk ke Tanah Air dan kaum muda Tionghoa merasa cocok dengan budaya itu," ungkap Aditya.

Tak salah manakala banyak pihak yang mengatakan bahwa budaya Tionghoa berada di persimpangan jalan. "Kami berharap dari acara semacam ini dapat membantu kaum muda Tionghoa untuk mau menggali lebih dalam budaya dan sejarahnya, minimal yang ada di Surabaya," harapnya.

Terkait dengan hasil penelitian tentang asal usul Imlek, Claudine meyakini setelah menelusuri ke beberapa kawasan hingga ke negeri Tiongkok. "Ya, di Negeri Tirai Bambu tidak ada penelitian yang menyebutkan bahwa imlek adalah produk budaya bangsa di negara tersebut," ungkapnya.

Claudine menambahkan bahwa prasasti tradisi dan budaya Tionghoa di kota Pahlawan juga banyak terekam dalam Klenteng Boen Bio di Surabaya. Gatot Seger Santosa, pengurus Klenteng Boen Bio yang hadir di acara tersebut membenarkan. ”Ya, klenteng Boen Bio termasuk yang mewarisi budaya Tionghoa di daerah ini” imbuhnya.

Myra Sidharta yang juga didaulat sebagai pembicara dalam acara bincang budaya Tionghoa tersebut mengungkap aspek politik kebudayaan Tionghoa di tanah air. Menurut Myra, perkembangan budaya Tionghoa di Indonesia mengalami pasang surut yang cukup berarti. Hal itu terutama dipengaruhi oleh rezim politik di negeri ini.
”Diskriminasi sosial budaya oleh rezim politik era Orde Baru, cukup mempengaruhi dinamika bahasa dan budaya Tionghoa di negeri ini” ungkap Myra.

Tidak hanya itu, Myra juga mengungkap perlakuan deskriminasi terhadap warga Tionghoa yang terjadi sejak zaman penjajahan Belanda. “Pemerintah Belanda telah melakukan kebijakan diskriminasi yang sangat jelas ketika itu dengan memisah pemukiman warga Tionghoa dengan warga pada umumnya” jelas Myra. “Bahkan ketika mendapat hukuman, warga Tionghoa menempati sel yang sama dengan warga biasa. Perlakuan berbeda jika warga Jepang mendapat hukuman ditempatkan sel bersama orang Eropa. Irnoisnya lagi, untuk mengenyam pendidikan juga demikian, harus sekolah khusus tidak boleh di sekolah Belanda” imbuhnya.

Bagi Claudine Salmon dan Myra Sidharta, acara bincang di Surabaya kali ini selain untuk berdiskusi juga ingin berbagi pengalaman dan bertemu kembali dengan berbagai komunitas Tionghoa di Surabaya. “Saya dulu pernah ke Surabaya untuk meneliti Tionghoa, kali ini senang rasanya bisa ke sini lagi” ujar Claudine.*** by Choirul Mahfud

Baca selengkapnya klik di sini.....

Mengapresiasi Kurikulum Pendidikan Lalu Lintas

UU Nomor 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, memberikan amanat kepada semua pihak untuk ikut serta mematuhi lalu lintas ketika berkendara di area lintasan jalan publik. Namun hingga kini, pelaksanaan aturan yang sangat ideal tersebut bukan menghadapi masalah.

Justru faktanya antara apa yang seharusnya dilaksanakan (das sollen) dengan apa yang senyatanya sehari-hari (das sein) acapkali tidak berbanding lurus. Terbukti hingga saat ini masih banyak terjadi pelanggaran berlalu lintas di sana-sini. Secara kebetulan atau tidak, pelaku pelanggaran ternyata tidak sedikit dari masyarakat yang berpendidikan. Pertanyaannya kenapa hal ini terus terjadi? Bagaimana cara mengurangi atau mengatasinya?

Menjawab pertanyaan tersebut tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab, melanggar aturan seolah menjadi habitus (budaya) masyarakat. Karena itu, berita tentang upaya dan langkah strategis Polda Jatim dan Dinas Pendidikan di Jawa Timur khususnya yang terus mematangkan kurikulum untuk memasukkan materi lalu lintas ke pelajaran sekolah, perlu diapresiasi semua pihak. Harapannya, kerja sama semua pihak semacam itu untuk merubah budaya lama menuju budaya baru dan baik.

Ya, tulisan ini bagian dari apresiasi dan dukungan sebagai bagian dari masyarakat sipil. Sebagaimana santer diinformasikan bahwa upaya dan langkah strategis Polda Jatim dan Dinas Pendidikan di Jawa Timur untuk mematangkan kurikulum atau materi lalu lintas ke pelajaran sekolah, bukan tanpa harapan dan tujuan. Sejumlah media memberitakan bahwa harapan pemerintah tidak lain agar budaya tertib berlalu lintas dan menghargai pengguna jalan kini masuk sekolah di Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Mulai jenjang SD sampai SMA, yang akan mendapat pelajaran khusus lalu lintas di kelas. Selama ini, rencana memasukan materi lalu lintas baru sebatas pengintegrasian ke dalam pembelajaran, belum bisa berdiri sebagai kurikulum. Karena untuk semua itu diperlukan kajian-kajian menyeluruh di tingkat lokal dan nasional. Dengan melihat apakah memang secara signifikan dapat dijadikan kurikulum dan cukup memenuhi intergrasi dari beberapa macam mata pelajaran untuk dimasukkan ke dalam pembelajaran lalu lintas ini.

Di Jawa Timur, rencana pengembangan dan pelaksanaan kurikulum lalu lintas, katanya, tidak akan tanggung-tanggung melibatkan petugas polisi dari satuan lalu lintas sendiri yang memberi materi. Menurut Harun, Kepala Dinas Pendidikan Jatim, tentang jadwal pelajaran ini kita serahkan kepada sekolah masing-masing di daerah. Pelaksanaannya, kata Harun, setiap minggu akan dialokasikan waktu minimal satu jam pelajaran. Di sini seolah mengapa hanya pelajar atau sekolah yang mendapat perhatian ekstra dan perlu diberi pendalaman melalui kurikulum khusus mengenai lalu lintas. Jawaban atau argumentasi yang bisa diajukan di sini, diantaranya: Pertama, usia sekolah dan lingkungan pendidikan yang masih terus berperan untuk mendidik, selain mengajar. Asumsi pemberian pendidikan lalu lintas sejak dini, dipastikan tingkat kepatuhan dan pemahaman mereka untuk selalu tertib berlalu lintas akan dapat lebih maksimal, ketimbang cara konfensional lainnya. Bila sudah masuk kurikulum, maka pendalaman mengenai ketentuan berlalu lintas akan lebih mudah dan maksimal.

Kedua, kuantitas jumlah kendaraan di jalan raya makin lama makin banyak. Banyak juga yang mengamini semua didominasi kendaraan roda dua. Dan sejauh ini jumlah pengendara sepeda motor di jalanan dari kalangan pelajar cukup besar. Beberapa diantaranya diyakini masih mempunyai perilaku yang dianggap belum sesuai dengan ketentuan berlalu lintas. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan korban di jalanan dari kalangan siswa. Selain hal di atas, memang ada hal lain yang perlu diwaspadai terkait kecelakaan dan penyebabnya. Muhamad Ikhsan (2009) mengatakan bahwa dari beberapa penelitian dan pengkajian di lapangan faktor korelatif yang dapat mempengaruhi stabilitas keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas di jalan raya merupakan interaksi serta kombinasi beberapa faktor yang saling mempengaruhi situasi lalulintas meliputi:

Pertama, Faktor manusia. Manusia sebagai pemakai jalan yaitu sebagai pejalan kaki dan pengendara kendaraan baik motor maupun tidak bermotor. Berbicara manusia tidak terlepas dengan: Mental, Pengetahuan, Keterampilan dan Kemampuan dalam mengendalikan (Mengendarai/Mengemudi) Kendaraan. Kedua, Faktor Kendaraan. Berbicara kendaraan tidak lepas membicarakan Kuantitas dan kualitas Kendaraannya yang turut mendukung. Ketiga, Faktor Jalan. Penanganan faktor jalan merupakan sebuah ranah yang memiliki kompleksitas kepentingan serta tanggung jawab yang berada pada banyak pelibatan instansi terkait, sehingga dalam penanganannya perlu dilakukan koordinasi yang komprehensif antar instansi tersebut. Tak hanya itu, Sarana dan Prasarana seperti Rambu-rambu, Marka jalan, Alat pemberi isyarat lalu lintas, Alat pengendali dan alat pengamanan pemakai jalan, Alat pengawasan dan pengamanan jalan, ada fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan yang berada di jalan dan di luar jalan.

Keempat, Faktor Lingkungan. Lingkungan sebagai sumber informasi. Manusia, kendaraan dan sistem lingkungan, lingkungan adalah info yang berharga yang dapat digunakan bagi pengguna jalan. Observasi (penglihatan, sentuhan, pendengaran) memungkinkan sesorang untuk menunjukkan kemampuan mengemudinya kedalam keinginan kebiasaan pribadinya. Tujuan observasi ini adalah untuk mendapatkan terus menerus dan mengalir sebanyak-banyaknya informasi tentang jalan dan lingkungan, ini adalah sebagai dasar bagi keadaan yang diinginkan.

Dalam konteks ini, upaya dan usaha untuk mewujudkan keselamatan jalan raya merupakan tanggung jawab bersama antara pengguna jalan dan aparatur negara yang berkompeten terhadap penanganan jalan raya baik yang bertanggung jawab terhadap pengadaan dan pemeliharaan infra dan supra struktur, sarana dan prasarana jalan maupun pengaturan dan penegakkan hukumnya hal ini bertujuan untuk tetap terpelihara serta terjaganya situasi aman di jalan raya secara terarah dan mencapai sasaran yang diharapkan, partisipasi aktif dari pemakai jalan terhadap etika. Sopan santun dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku merupakan suatu hal yang paling penting guna terwujudnya keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas, sesuai dengan sistem perpolisian modern menempatkan masyarakat sebagai subjek dalam menjaga keselamatan pribadinya akan berdampak terhadap keselamatan maupun keteraturan bagi pengguana jalan lainnya.

Oleh karena itu, di Jawa Timur dan mungkin di kawasan lain, polisi dan pihak terkait dengan lalu lintas berinisiatif mencipta budaya lalu lintas yang baik melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan. Sebab, pendidikan mampu menyadarkan kepada masyarakat. Bila hal ini terus berjalan, tentu polisi tidak hanya bertugas mengembangkan teknologi mengatasi masalah kemacetan, dan melakukan registrasi (membuat SIM), namun juga melakukan pembinaan sedini mungkin budaya berlalu lintas kepada masyarakat khususnya yang berusia muda. Tentu saja harapannya adalah untuk kebaikan dan keselamatan dalam berlalu lintas.***

Ditulis oleh: Choirul Mahfud

Baca selengkapnya klik di sini.....

Melawan Kekerasan Tanpa Kekerasan

Belum lama ini, Community Education Center (Comec) Jawa Timur mengadakan seminar tentang “budaya kekerasan dan ancaman nasionalisme”, di Hotel Fortuna Surabaya. Dihelatnya acara ini bukan tanpa alasan. Namun justru karena berawal dari banyak faktor dan latar masalah. Terutama fenomena menjalarnya kekerasan dari dan ke berbagai sektor kehidupan.

Karenanya, perlu dibahas dan diurai dari akar masalahnya hingga solusi bagaimana upaya pencegahannya. Menurut Simon Philantropa, kekerasan di negeri ini merupakan sesuatu yang diproduksi oleh penguasa dan masyarakat. Modus kekerasan yang dilakukan cukup beragam. Ada yang terbuka dan tertutup. Bahkan juga dilakukan secara diam-diam dalam bentuk pembiaran.

Bagi Simon, pembiaran terhadap kasus kekerasan merupakan bentuk kekerasan yang juga harus diwaspadai. Di sisi lain, Amin Hasan, ketua Comec Jawa Timur, menyatakan bahwa kasus kekerasan akhir-akhir ini nampaknya sudah menjadi budaya bangsa. Mulai di bangku sekolah, hingga materi khutbah.


Bagi Amin, seolah semua domain kehidupan masyarakat sudah akrab dengan budaya kekerasan. Hal itu dapat disaksikan pula dari banyaknya kasus yang berbau kekerasan melalui banyak media massa di negeri ini. Seperti kasus saling serang antara warga desa satu dengan warga desa lainnya, tawuran antar pelajar dan mahasiswa, tawuran antar suporter sepak bola, hingga adu jotos yang pernah terjadi di gedung dewan yang diperankan anggota dewan yang katanya terhormat. Beberapa kasus kekerasan di atas, lanjut Amin, tentu bukanlah sekadar kecelakaan belaka. Namun lebih dari itu, sudah menjadi budaya “baru” masyarakat di negeri yang plural ini. Tentu saja, bila dibiarkan budaya “baru” berbau kekerasan ini, maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Apalagi negeri ini konon dikenal sebagai negeri yang ramah, santun dan sangat menjunjung adat ketimurannya lainnya. Tentu menyisakan masalah apa kata dunia bila ini terus dibiarkan. Hingga saat ini, kasus kekerasan telah menimpa siapa saja. Mulai anak kecil hingga dewasa. Namun tak sedikit pula yang menimpa kaum perempuan. Kasus trafficking (perdagangan) yang kini menimpa anak dan gadis di bawah umur adalah wajah kekerasan yang harus disikapi bersama.

Secara bahasa, kekerasan adalah lawan dari kelembutan. Bahasa kelembutan dalam interaksi sosial seolah dianggap tak menyelesaikan masalah. Dari sinilah, istilah kekerasan dikupas. Istilah kekerasan pada mulanya digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik yang bersifat menyerang (offensive) atau bertahan (defensive), secara terbuka (overt) maupun tertutup (covert), langsung (dirrect) atau tak langsung (indirrect). Namun, dalam perkembangannya, dapat dikatakan bahwa kekerasan merupakan perilaku agresif satu pihak kepada pihak lain yang terjadi terus menerus. Anak yang menjadi korban kekerasan yang cukup serius, cenderung untuk mengembangkan perilaku kekerasan ini juga dalam kehidupannya setelah dewasa.

Dalam konteks inilah, budaya kekerasan perlu diurai sejak dini. Ada beberapa penjelasan mengenai proses kekerasan melahirkan kekerasan. Pertama, anak meniru perilaku agresif yang dilihatnya. Kedua, perilaku kekerasan dianggap hal yang wajar bahkan perlu untuk dilakukan. Ketiga, kekerasan yang dilihat atau dialami anak secara terus-menerus akan membentuk pola pikir pada anak bahwa lingkungan sekitarnya bukanlah tempat yang aman baginya.

Karena itu, ada benarnya bahwa anak memang selalu belajar dari lingkungannya. Hal ini biasa diungkap bahwa jika anak hidup penuh dengan kritik, anak cenderung akan belajar menyalahkan orang lain. Jika hidupnya penuh dengan permusuhan, anak akan belajar berkelahi. Sebaliknya, jika anak hidup dengan penuh kelapangan dada, anak akan belajar menjadi sabar. Manakala hidupnya penuh dengan pujian, anak cenderung akan belajar menghargai orang lain.

Dalam konteks inilah, persoalan kekerasan di muka bumi ini tentu saja tidak selamanya bisa diselesaikan dengan kekerasan. Justru, solusi kekerasan dilawan dengan kekerasan disinyalir tidak akan pernah menyelasaikan suatu persoalan dan bahkan hanya akan menambah persoalan baru. Karenanya, Mahatma Gandhi, tokoh besar India, menyarankan kekerasan seharusnya dilawan dengan tanpa kekerasan. Barangkali, solusinya diupayakan dengan penuh kelembutan, kedamaian, keikhlasan memaafkan, dan keteladanan yang baik untuk kehidupan dan kemanusiaan.***


Ringkasan seminar ini ditulis oleh: Choirul Mahfud.

Baca selengkapnya klik di sini.....

Thursday, November 10, 2011

3 Karakter Kepemimpinan di Komunitas Tionghoa

Karakter kepemimpinan di komunitas Tionghoa identik dengan gaya "Bos". Tapi bukan itu saja. Masih ada dua lainnya. Hal ini diungkap dalam diskusi yang dihelat CCIS (Center for Chinese Indonesian Studies) UK Petra Surabaya. Tema diskusinya tentang isu dan pola kepemimpinan di Komunitas Tionghoa. Pembicaranya adalah seorang peneliti kepemimpinan Tionghoa di Surabaya, Dr. Alex Lim, MRE.

Acara diskusi ini berlangsung di Ruang Teater Perpustakaan UK Petra Surabaya, belum lama ini. Dihadiri oleh puluhan peserta dan masyarakat umum yang mayoritas dari warga Tionghoa dan akademisi di lingkungan kampus UK Petra Surabaya.

Alasan dipilihnya topik ini karena persoalan kepemimpinan termasuk hal yang krusial. Terlebih di era demokrasi seperti saat ini, di mana pola kepemimpinan yang ada di komunitas masyarakat akan sangat menentukan nasib komunitas tersebut, termasuk di komunitas Tionghoa.

Menurut Aditya Nugraha, anggota CCIS UK Petra, meskipun topik kepemimpinan memang sudah cukup banyak dibahas, namun topik tentang pola kepemimpinan di komunitas Tionghoa bisa dikatakan sangat jarang diteliti atau diwacanakan di masyarakat kita.
“Karena itu, topik ini sengaja diangkat ke permukaan untuk konsumsi publik yang ingin tahu tentang masalah ini” imbuhnya.

Secara panjang lebar, Dr. Alex Lim, MRE yang didaulat sebagai narasumber menjelaskan hasil risetnya tentang pola kepemimpinan Tionghoa di Indonesia. “Secara umum, riset saya memang terkait tentang pola kepemimpinan Tionghoa di Indonesia. Namun, saya membatasinya pada kepemimpinan di komunitas Tionghoa yang beragama Kristen dan Gereja” paparnya.

Namun begitu, Alex menyatakan bahwa kajiannya juga dikembangkan pada pola kepemimpinan di komunitas Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Alex Lim menyatakan bahwa hingga saat ini, kepiawaian orang Tionghoa dalam berbisnis masih lebih menonjol ketimbang isu tentang kepemimpinan. “Hal ini dimaklumi, sebab filosofi hidup warga Tionghoa yang menonjol adalah uang” ungkapnya.

Lanjut Alex, berbicara mengenai Tionghoa, juga tidak lepas dari pengaruh kepercayaan tradisi, seperti Fengshui, karakter huruf, warna, angka, shio dan lainnya, ketimbang melulu isu kepemimpinan dan masalah politik praktis lainnya. “Hal ini mungkin masih dimaklumi sebab pada era sebelum reformasi warga Tionghoa memperoleh perlakuan yang diskriminatif, namun kini topik kepemimpinan nampaknya perlu kembali diulas sebagai bentuk sumbangan pemikiran” imbuhnya.

Alex Lim menilai bahwa ada 3 ciri dan pola kepemimpinan Tionghoa yang sangat menonjol hingga saat ini. Pertama, sistem perintah atau gaya “bos,” semua taat komandonya tanpa melalui atasannya atau bagian personalia. Kedua, apabila melakukan rapat, cenderung tidak bertele-tele, dan tidak suka menunda pekerjaan. Ketiga, umumnya siap ditempatkan di posisi mana pun juga. Ibaratnya, tidak ada istilah “The right man on the right place.”

Bagi Alex Lim, beberapa pola kepemimpinan tersebut di atas dalam konteks hari ini tentu saja ada plus minusnya. Maksudnya ada efektifitas model kepemimpinan bersistem komando, misalnya, dengan pola kepemimpinan lainnya. Tapi di sisi lain juga dinilai kurang bagus apabila dikaitkan dengan prinsip demokrasi yang menekankan musyawarah dan mufakat.

Linda Bustan, moderator diskusi, juga memberi catatan dalam diskusi tersebut bahwa pola kepemimpinan Tionghoa masih bersifat individualis ketimbang kolektif kolegial yang mengedepankan kerjasama tim. Bahkan, lanjut Linda, dalam banyak hal masih dipengaruhi oleh kesuksesan ekonomi warga Tionghoa itu sendiri.

“Ya, faktor ekonomi seseorang masih mendominasi dan berdampak pada kepemimpinan warga Tionghoa pada umumnya. Singkat kata, siapa yang kaya, dialah yang akan menjadi pemimpin” ungkapnya dengan tersenyum.***

Baca selengkapnya klik di sini.....

Powered by Blogger

"Sudahkah Anda membaca buku baru 39 Tokoh Sosiologi Politik Dunia; dari Socrates sampai Barack Obama? Bila belum, bisa dicari di Toko terdekat Anda. Selamat Membaca."