<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125</id><updated>2009-10-27T06:29:34.601-07:00</updated><title type='text'>Choirul Mahfud</title><subtitle type='html'>My ideas, publications and forum for others</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-225673131182097801</id><published>2009-03-05T23:31:00.001-08:00</published><updated>2009-03-11T22:46:18.288-07:00</updated><title type='text'>Buku baru: 39 Tokoh Sosiologi Politik Dunia: Dari Socrates sampai Barack Obama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/Sbia97L-G7I/AAAAAAAAAFQ/ov36EyOLYYA/s1600-h/CM+09.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/Sbia97L-G7I/AAAAAAAAAFQ/ov36EyOLYYA/s400/CM+09.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312166149134097330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dear all,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam teriring doa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ucapkan selamat menikmati buku baru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: 39 Tokoh Sosiologi Politik Dunia:&lt;br /&gt;       Dari Socrates sampai Barack Obama. &lt;br /&gt;Penulis: Choirul Mahfud&lt;br /&gt;Penerbit: Jaring Pena, Surabaya&lt;br /&gt;Cetakan: Pertama, Februari 2009&lt;br /&gt;Halaman: 450 Halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup membaca 1 buku, anda kenal 39 tokoh sosiologi politik dunia. dari Socrates sampai Barack Obama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca. Moga Anda puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Choirul Mahfud. Penulis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah komentar singkat dari pembaca terhormat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cabang ilmu pengetahuan apapun tidak bisa lepas dari pengaruh dan kebutuhan pada ilmu sosiologi, karena semua kegiatan pada urutannya melahirkan bangunan sosial dan sebaliknya entitas sosial akan memengaruhi perkembangan individu, masyarakat dan bangsa. Buku bagus karya Choirul Mahfud ini perlu dibaca oleh para mahasiswa dan politisi untuk membantu menganalisis dan memahami dinamika sosial, politik dan kebangsaan yang tengah berubah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku tentang Teori Sosial sudah banyak diterbitkan. Tapi, buku yang mengulas tokoh sosial politik dari zaman kuno sampai sekarang, masih jarang ditemukan. Buku ini menjadi menarik karena mempermudah kita mengenal para tokoh itu, mulai dari Socrates sampai Barack Husein Obama dengan cara singkat. Layak menjadi bacaan untuk setiap orang yang mengedepankan wawasan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arif Afandi, Wakil Walikota Surabaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buku ini adalah diskripsi singkat tentang sosok, profil, dan buah pikiran para nabi sosiologi. Tetapi, lain dari buku-buku tentang profil para pendiri sosiologi yang pernah terbit, buku ini menampilkan sosok, profil, dan buah pikiran para nabi sosiologi lebih komplit. Sebab isinya adalah profil, sosok, dan buah pikiran para nabi sosiologi dari yang klasik sampai nabi sosiologi kontemporer. Patut dibaca dan perlu''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksum, Wartawan senior Jawa Pos dan direktur eksekutif JPIP&lt;br /&gt;(The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Profisiat atas karya ini! Buku ini merupakan karya menarik karena mampu menghimpun pergulatan dan dialektika pemikiran bidang sosiologi politik sepanjang sejarah, terutama menyangkut gagasan 39 tokoh. Jauh lebih menarik lagi, jika karya ini dijadikan acuan, tidak hanya untuk kepentingan dialektika pemikiran, tetapi sekaligus untuk meningkatkan kualitas aktivitas berpolitik yang lebih berorientasi pada pembelaan kepentingan umat manusia.”  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rikard Bagun, Wartawan Senior KOMPAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alphonse de Lamartine menulis: "History teaches everything, even the future". Kumpulan biografi yang terdapat dalam buku karya Choirul Mahfud ini sangat membantu dalam memahami kiprah dan sejarah dari 39 tokoh sosiologi politik dunia. Harapan saya buku ini dapat memberikan kontribusi positif bagi proses pembelajaran demokrasi yang sedang dilalui bangsa Indonesia ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charles Honoris, Kolumnis dan Politisi Muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buku ini adalah pintu pembuka bagi peminat pemikiran politik. Ditulis dengan bahasa yang tidak terlalu berat dan renyah. Yang lebih menarik, meskipun ringkasan, tetapi tidak kehilangan kedalaman dan substansi. Buku ini perlu dibaca bagi para peminat kajian pemikiran sosiologi politik".   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas Urbaningrum, Politisi Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memahami pemikiran para filsuf adalah hal yang mengasyikkan bagi peminat teori-teori sosial politik. Namun, menghimpun berbagai teori-teori tersebut dalam satu bingkai adalah pekerjaan yang berat. Buku ini setidaknya meringankan  pekerjaan pembaca untuk memahami pemikiran para filsuf tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohan Wahyu, Litbang KOMPAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat dan salut pada sahabat saya Choirul Mahfud, atas terbitnya sebuah buku yang istimewa, yang menghantarkan para pembaca pada pemikiran tokoh-tokoh dunia dari berbagai zaman, baik yang hidup sebelum ilmu sosiologi sendiri berdiri, maupun yang masih berkecimpung dalam dunia politik saat ini.  Sebuah karya yang patut dibaca, dari seorang intelektual muda yang penuh inspirasi”.  &lt;br /&gt;Johanes Herlijanto, seorang sahabat yang sedang belajar S3 Anthropologi di Macquarie University, Sydney, Australia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Memahami perilaku manusia dengan sesamanya bukanlah hal yang sederhana. Sangat kompleks dan dinamis. Kompleksitas itu terlihat dari berbagai teori Sosiologi yang terus berkembang sepanjang sejarah.  Buku ini memberikan wawasan yang luas, lengkap dan lugas bagi para pemula dan peminat Ilmu Sosiologi Politik”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Mukti, Direktur Eksekutif Center for Dialogue and &lt;br /&gt;Cooperation among Civilisations (CDCC) Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku Bung Choirul Mahfud ini adalah buku wajib baca buat mahasiswa jurusan apa saja, gerbang besar yang mudah dimasuki siapa saja, menuju kekayaan pemikiran yang tak terhingga.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeffrie Geovanie, Senior Fellow The Indonesian Institute dan Council of  Advisor CSIS (Center for Strategic and International Studies) Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengenal Choirul Mahfud dari artikel-artikelnya yang menyebar di berbagai media. Saya juga mengenalnya dari beberapa buku yang telah ditulisnya. Buku terbaru mengenai tokoh-tokoh filsafat politik ini semakin meneguhkan reputasi dan produktifitasnya sebagai salah seorang penulis muda di Jawa Timur. Buku ini cukup bermanfaat untuk menjadi referensi bagi mereka yang ingin mengetahui perkembangan pemikiran politik klasik maupun modern.&lt;br /&gt;Dimunculkannya pemikiran politik Barack Obama membuat buku ini makin menarik karena relevan dengan perkembangan terkini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhimam Abror Djuraid, Pemimpin Redaksi Surabaya Post&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehadiran buku yang ditulis Choirul Mahfud, terasa bagai oase di tengah gurun wacana sosial politik yang membentang luas. Kala membaca rasanya beda. Bahasanya sederhana, lugas, tidak bertele-tele sehingga mudah dipahami bagi siapapun yang ingin memahami isi buku ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Harini, Direktur Eksekutif INSPIRE Indonesia (Institute for Social, &lt;br /&gt;Politics, Religion and Education Studies)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku ini menambah perbendaharaan dunia pustaka kita tentang riwayat hidup dan pemikiran para tokoh sosiologi politik dunia. Hampir semua tokoh yang banyak memengaruhi perkembangan dunia tercantum dalam buku ini. Tetapi sangat disayangkan bahwa hanya ada dua orang saja pemikir dari dunia “Timur”. Padahal, banyak sekali tokoh-tokoh pemikir dari Tiongkok, India, Iran, Arab, Libanon, Mesir dan lain-lainnya yang patut mendapat tempat dalam buku ini. Memang buku ini bukan buku pertama mengenai para tokoh pemikir dunia, tetapi setidaknya buku ini adalah buku pertama yang ditulis dan disusun oleh penulis bangsa kita. Buku ini akan banyak membantu menambah wawasan kita,  jadi  kita  dan para pemimpin bangsa wajib membacanya. ”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benny G. Setiono, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Jakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku 39 tokoh sosiologi politik dunia ini layak dibaca oleh akademisi, politisi maupun mereka yang sedang berada di kekuasaan. Dengan mau membaca buku ini, akan banyak dapat inspirasi bagaimana berfikir yang kreatif, berpolitik yang bermutu, bernegara yang benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sururi Alfaruq, Pemimpin Redaksi Koran Seputar Indonesia (SINDO)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Buku ini berupakan pemahaman pada sejumlah tokoh dunia, langkah waktu yang sangat lebar memberikan pembanding yang kontras, dikupas oleh Choirul Mahfud dengan kacamatanya yang jeli, tentu merupakan bacaan yang sangat menyenangkan, membuat pembaca dalam waktu singkat tiba tiba merasa akrab dengan para tokoh yang dibahas”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Prof. Dr. Philip K. Widjaja, Ketua WALUBI Jatim, dosen Pascasarjana UNAIR Surabaya, juga pengamat politik, sosial dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merambah pemikiran sosiologi politik dunia bukan hal mudah. Buku ini terasa penting karena beragam tokoh yang berbeda itu dihadirkan secara bersama dan diletakkan sesuai konteks sosial dan pemikiran politiknya. Di tangan penulis muda berbakat, kecenderungan sang tokoh menjadi jelas terungkap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Amir Aziz, Dosen IAIN Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku 39 Tokoh Sosiologi Politik Dunia karya Choirul Mahfud ini membantu dan memudahkan kita untuk membaca pikiran dan gagasan sentral semua tokoh untuk mengarifi dan mengambil hikmah. Selamat membaca dan menikmati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suratno, Ketua Departemen Falsafah dan Agama, &lt;br /&gt;Universitas Paramadina, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari tokoh membuat kita mengerti apa yang telah terjadi dan bagaimana kita harus bersikap. Buku 39 tokoh sosiologi politik dunia karya Choirul Mahfud ini relevan dengan tujuan mulia tadi dan tentu perlu dibaca siapa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airlangga Hartarto, Anggota DPR RI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku ini menyuratkan spirit pembelajar penulisnya. Dibesarkan dalam ranah ilmu pendidikan, penulisnya menjelajah ke dunia sosiologi politik. Saya yakin, tulisan ini akan mematangkan perspektif penulisnya, serta memperkaya horizon pembacanya dalam samudera pemikiran para tokoh sosiolog politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakiyuddin Baidhawy, Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku ini sangat membantu mendekatkan anda pada tokoh-tokoh besar "tidak tersentuh" dalam sejarah peradaban manusia, sekaligus membawa Anda mengarungi samudera ilmu yang sangat luas.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Juli Antoni, Direktur Eksekutif MAARIF Institute &lt;br /&gt;for Culture and Humanity, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat atas terbitnya buku ini. Kami sangat bangga dengan adanya buku yang seperti autobiografi singkat dari para tokoh filsafat, sosial, dan politik dengan paham dan karya mereka yang memengaruhi dunia. Ditulis secara ringkas dan padat dengan bahasa yang mudah dipahami. Cukup dengan 1 buku, kita sudah dapat mengenal 39 tokoh sosiologi politik dunia. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HMY. Bambang Sujanto, Chairman KITA GROUP dan Ketua Umum Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila buku ini diterbitkan menjelang pemilu legislatif 2009, sangat pas sekali. Sebab,  kini bermunculan politisi dadakan yang awam perpolitikan, seiring menjamurnya partai politik. Buku ini layak jadi bacaan wajib para Caleg agar memahami pemikiran-pemikiran 39 tokoh sosiologi politik dunia ini. Serta mengimplementasikannya ketika mereka terpilih sebagai wakil rakyat nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumarno, Wartawan Senior Radar Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salut atas keberhasilan Cak Choirul Mahfud merangkum intisari dan ruh prinsip-prinsip yang menjadi landasan politik yang masih relevan hingga saat ini. Lebih dari itu, informasi tentang proses lahirnya pemikiran-pemikiran para tokoh dunia, sangat bermanfaat bagi kita untuk memahami lebih dalam tentang pemikiran, prinsip serta teori tersebut. Semuanya disajikan dalam gaya bahasa yang mudah dipahami serta enak dibaca. Sekali lagi, salut dan selamat buat Cak Choirul Mahfud". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alvin Lie, anggota DPR RI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku tentang tokoh dunia, meski –atau apalagi-- dengan kriteria tertentu, tidak dapat diharapkan sempurna dalam arti mencakup semua tokoh. Sehingga wajar saja jika akan ada pertanyaan-pertanyaan misalnya, mengapa hanya tokoh-tokoh ini? Mengapa tokoh ini tidak masuk, mengapa tokoh ini masuk, apa kriterianya? Seperti buku 39 Tokoh Sospol Dunia ini, orang bisa bertanya, misalnya,  mengapa 39? Mengapa Ibnu Khladun masuk dan Imam Mawardi tidak?  Mengapa Arief Budiman masuk dan Ir. Soekarno tidak? Subyektifitas penulisnya--ketertarikannya, perhatiannya, dan sudut pandangnya--ikut menentukan. Namun bagaimana pun, upaya saudara Choirul Mahfud untuk membantu kita mengenal sekian tokoh-tokoh sosial-politik dunia perlu dihargai. Dan melihat potensinya, kita bisa mengharap dari penulis ini akan muncul buku-buku tentang tokoh-tokoh dunia yang lain; baik di bidang sospol maupun lainnya. Semoga.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KH. AHMAD MUSTOFA BISRI (Gus Mus), Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-225673131182097801?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/225673131182097801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=225673131182097801' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/225673131182097801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/225673131182097801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2009/03/obama.html' title='Buku baru: 39 Tokoh Sosiologi Politik Dunia: Dari Socrates sampai Barack Obama'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/Sbia97L-G7I/AAAAAAAAAFQ/ov36EyOLYYA/s72-c/CM+09.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-4255811785467054435</id><published>2009-01-28T03:23:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T03:24:11.972-08:00</updated><title type='text'>Enlisting educators to uphold multiculturalism</title><content type='html'>Enlisting educators to uphold multiculturalism&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opinion and Editorial - January 10, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Choirul Mahfud, Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The rampant ethnic and religious tension in Indonesia has frustrated the efforts of many social scientists, educators, scholars, Civil Society Organization (CSO) activists and community leaders for the past few years. There were indications of gains in the country's struggle for democracy.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the continuing ethnic and religious violence and unrest in some parts of the country show how prevailing and intransigent the problem of prejudice and discrimination has been. At a time when demographic changes and economic pressures are forcing people to come into contact with those from different backgrounds, feelings of distrust and alienation are rising.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While schools and educators cannot change economic growth and the constraints affecting factors of many of those human problems, they can make a difference in helping shape the students' views of the world, respect for diversity and strengthening democracy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During the last few decades, multicultural studies have enabled scholars and practitioners to see in all areas "the invisible paradigms" of the academic system and the larger cultural context that marginalize or trivialize the lives of women, ethnic minorities and those outside the dominant class or culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Indonesia, the heavy pressure toward integration and national unity since its independence provided a different setting for the role of multiculturalism. The nation's collective memory had been traumatized by the tension and violence resulting from various attempts at secession based on ideological, regional, cultural, as well as territorial differences and the efforts to terminate those attempts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yet, by the national motto of Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity) in Pancasila, the emphasis on unity should not neglect diversity. Education that stressed only unity above all would produce narrow-mindedness and uproot individuals out of their indigenous heritage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the same periods, education in Indonesia had discussed a little about how we appreciate and respect the religious or belief diversity and variety of cultural wealth. There was a tendency of homogenization introduced systematically through the education under the national cultural protection, the hegemony of Javanese culture as a center and others as the edge and pauperization of culture by shortening the variety of cultural identity into a number of Indonesian provinces.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1999, Anita Lie said the process of homogenization and the cultural hegemony and pauperization was taught in civic education, such as education of Pancasila and citizenship, national history and struggle, training of P4 (guidance for internalization and externalization of Pancasila) -- and even religious education.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The recent tension and violence in different parts of the country showed that the excessive drive for unity that had been enforced especially for the past 30 years was not an effective response to the risk and fear of disintegration. Now that the nation is at a crossroad as a reform movement has started, ethnic, religious, racial and class differences should be regarded as the nation's rich heritage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Within this perspective, multicultural education is needed to foster peace, understanding and respect among all members of society. As we know, the perspectives in multicultural education encompass many dimensions of human difference: race, ethnicity, occupation, socioeconomic status, age, gender, sexual orientation, various physical traits and needs, religion, and culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of the multicultural education premises states that teaching learning is a cultural process in a social context. In order for teaching and learning to be accessible and fair for various background and origins of students, cultures need to be clearly understood. Such understanding can be achieved by analyzing education from various cultural perspectives by which it can avoid the hegemony of dominant cultural experience.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;School is an epitome of society. In the norms of procedure, attitudinal code, structural order, power distribution, special feature and responsibility, school reflects society's cultural values. Classroom teachers, school administrators and policy makers bring their own experience and cultural perspective and influence the policy and education actions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition, the students who come from various ethnic and cultural backgrounds are unavoidable to bring them, too. The various different cultural systems meet in school and classroom and can cause a cultural conflict, which can only be mediated and reconciled by the effectiveness of the instructional process that enlightens and opens the awkward, diluted cultural boundaries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1987, Ramsey said multicultural education was not a set curriculum but a perspective that was reflected in all decisions about every phase and aspect of teaching. It is a lens through which teachers can scrutinize their choices in order to clarify what social information they are conveying overtly and covertly to their students.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In other words, educators should be aware of and responsible for the underlying goals and values of the curriculum designs, materials and activities they deliver to the students. Education occurs in a sociocultural context and all curriculum materials and practices reflect certain social values.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shortly, in light of the need to foster peace and development, educators should recognize the underlying goals and values of the curriculum designs, materials and activities they deliver to the students. All curriculum materials and practices reflect certain social values.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the curriculum processes still depend mainly on textbooks, educators should therefore ensure that the books they use in their classrooms be culturally sensitive and respect students' varied sociocultural backgrounds, which affect their learning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this context, teachers should be aware of the growing diversity in schools and the implication of using a certain set of curricular materials in their classrooms. Social scientists and commentators often point out the rich blend of cultural differences found in Indonesian society. While these observers have a point, it is equally true that diversity is difficult ... especially in schools.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, as Aristotle saw it, the challenge of ethnicity (or multiculturalism), is one of augmenting familial love, expanding the natural links to one's own "kind," so that these links also include others who are more distantly related, rather than doing away with the initial links and bonds as such.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The writer is the author of book of Multicultural Education (Pustaka Pelajar Jogja, 2008), and a lecturer at Muhammadiyah University in Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://old.thejakartapost.com/yesterdaydetail.asp?fileid=20090110.E02&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-4255811785467054435?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/4255811785467054435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=4255811785467054435' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/4255811785467054435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/4255811785467054435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2009/01/enlisting-educators-to-uphold.html' title='Enlisting educators to uphold multiculturalism'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-6706193588364328966</id><published>2009-01-28T03:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T03:21:06.201-08:00</updated><title type='text'>`Imlek', the benefits of recognition for all</title><content type='html'>`Imlek', the benefits of recognition for all&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Choirul Mahfud ,  Surabaya   |  Wed, 01/28/2009 5:03 PM  |  Opinion&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imlek or Chinese New Year has come and the Chinese community in the world, including in Indonesia, is celebrating this big moment with several events. During the New Year celebrations Chinese people traditionally wish for mutual prosperity and luck in the coming year. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chinese New Year, or Imlek as it is called in Indonesia, has a long history. It is nearly impossible to trace the beginning of the celebration, but scholars have said it may have started 3,000 years ago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chinese New Year traditions originate from a mix of celebration and fear that come with the end of winter, which help explain the symbols and rituals we see enacted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The festival is celebrated on the first day of the first month of the lunar calendar. It also falls on the first day of spring and thus marks the passing of winter, which in the old days was harsh and even life-threatening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The celebration is also based on an ancient myth involving a wild beast, Nian, who came down from the mountains on dark winter nights, entering homes and devouring the inhabitants.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The passing of winter is thus also linked to the passing of danger. Over time, villagers discovered that the beast was afraid of the color red and loud noises, hence the prevalence of red during the festival and the use of firecrackers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What was a genuine cultural tradition has over time transformed into a system of beliefs infused with superstition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In recent years, it has also become overly commercial, with malls, hotels and restaurants all getting in on the act. Be that as it may, Chinese New Year is an important festival and we should celebrate it with our Chinese friends, sharing the spirit of family and renewal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For Indonesians of all ethnic backgrounds, Chinese New Year affords an opportunity to reaffirm the values of cultural openness, tolerance and pluralism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Chinese-Indonesian community in the past had to celebrate their festivals quietly behind closed doors and many had to endure years of discrimination.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asvi Warman Adam wrote in 2007 that for more than 30 years during the New Order regime, ethnic Chinese were not mentioned in Indonesian history books. Any Chinese festivities or cultural performances were prohibited.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was only after political reforms that conditions changed. Chinese New Year is now a public holiday and Chinese-Indonesians are free once again to celebrate it publicly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidharta Adhimulya, my Tionghoa friend in Surabaya, has told me during the 300 years of Dutch colonial subjugation this event could be celebrated freely, whereas in an independent Indonesia under the Soeharto regime - ironically - basic cultural, religious and language rights were severely restricted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citizens of Chinese descent were even required to change their names and could not attend Chinese schools.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;True, many of the cultural rights of the ethnic Chinese have been restored. In actuality, however, the government is still far from thorough in recognizing the human rights of the ethnic Chinese population. Many of their political rights are still limited and, as human rights are universal, to grant some cultural rights while denying others is simply wrong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As we know, when Abdurrahman Wahid served as president of Indonesia between November 1999 and August 2001, he abolished Presidential Instruction 14 (signed in 1967 by Soeharto) which had restricted the practice of Chinese customs and religions to private domains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Following this abolition, he signed Presidential Instruction 6, which allowed the public celebration of Chinese New Year from 2000 on. Megawati took a further step by declaring Chinese New Year a national holiday in 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Other than the official recognition of Chinese New Year, the revival of Chinese culture may be seen in the establishment of schools offering Mandarin as the language of instruction and a proliferation of Chinese-language newspapers in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1999 one television station began broadcasting news in Chinese (Metro TV) as did a radio station (Cakrawala), joining the growing number of Chinese-language newspapers to form a media climate that is more open to Chinese language and culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Significant improvements have been made to the laws regulating citizenship and civil administration, though less progress has been made in the country*s official history.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite some lingering forms of discrimination against the Chinese, things have, in general, changed dramatically in the last 11 years. The 2006 law on citizenship was a watershed because it recognized Chinese-Indonesians as part of the country*s population.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What a change this is from the time when they were not able to celebrate their culture in public. Chinese-Indonesians are increasingly accepted in sectors they have often been barred from in the past, including the civil service, the military, government service and the entertainment industry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this context, when the Chinese community celebrates its New Year festival openly, we hope they will do so with sensitivity and cultural taste, for example, avoiding over-the-top displays of wealth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The wider Indonesian community can learn from Chinese tradition and rituals and be enriched by the experience. Celebrating a festival, understanding each other's culture and having a sense of shared identity are critical for nation-building.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For those celebrating this worldwide festival, it is time to practice the values of humanity, love, empathy, sympathy, plurality, forgiveness and fellowship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We must be careful not to allow mysticism, irrational superstition and exclusivity to dominate. May the Year of the Ox be filled with peace, harmony and prosperity. Gong Xi Fa Chai. Happy Chinese New Year 2560.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The writer is a lecturer at Muhammadiyah University in Surabaya currently researching Chinese-Indonesians &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://www.thejakartapost.com/news/2009/01/28/imlek039-benefits-recognition-all.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-6706193588364328966?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/6706193588364328966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=6706193588364328966' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/6706193588364328966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/6706193588364328966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2009/01/imlek-benefits-of-recognition-for-all.html' title='`Imlek&apos;, the benefits of recognition for all'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-3251174091688746270</id><published>2008-07-05T03:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T03:27:20.278-07:00</updated><title type='text'>Agama dan Inspirasi Perdamaian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SG9Li4iw_DI/AAAAAAAAADU/3uV2E4R0tnM/s1600-h/S8301617.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SG9Li4iw_DI/AAAAAAAAADU/3uV2E4R0tnM/s400/S8301617.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219473555811531826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selamat Datang: Ucapan "Welcome" bagi Partisipan WPF di Hotel Sultan Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Choirul Mahfud &lt;br /&gt;Penulis adalah dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, Partisipan the 2nd World Peace Forum, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, konflik dan kekerasan baik berupa tindakan kriminal, kekerasan politik, pelanggaran hak azasi manusia, konflik etnis, terorisme, otoritarianisme dan perang antar bangsa telah menjadi bagian dari wajah dunia yang mengganggu dan mengkhawatirkan semua manusia di seluruh kawasan dunia. Sejumlah tindak konflik, kekerasan dan terorisme, terkadang acapkali dilakukan dengan menggunakan sentimen agama dan etnis. Jika kecenderungan di atas terus berlanjut, maka masa depan umat manusia berada dalam ancaman serius. Karena itu, baru-baru ini, PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Cheng Ho Multi Culture Trust Kuala Lumpur Malaysia, dan Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) di Hotel Sultan Jakarta, menghelat The 2nd World Peace Forum (WPF)  guna membahas dan mengatasi masalah tersebut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut, 24-26 Juni, dihadiri oleh sekitar 220 tokoh dari berbagai penjuru dunia. Para tokoh dan mantan tokoh politik, religius, pebisnis, aktivis LSM, jurnalis dan cendekiawan yang hadir antara lain berasal dari Australia, Tiongkok, Kroasia, Mesir, Indonesia, Jerman, India, Iran, Italia, Jepang, Korea, Libya, Malaysia, Norwegia, Pakistan, Filipina, Rusia, Singapura, Swedia, Thailand, Timor Leste, Tunisia, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum perdamaian dunia kedua tersebut memilih tajuk “Addressing Facets of Violence: What can be Done?. Salah satu alasan mendasar dipilihnya masalah konflik dan kekerasan adalah muncul dan merebaknya fenomena aksi dan wacana kekerasan di berbagai belahan dunia. Menurut Din Syamsuddin,  merebaknya fenomena kekerasan yang terjadi dengan berbagai latar belakang penyebab, sudah seharusnya diatasi. Kalau tidak, akan merusak perdamaian dunia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan pembukaan forum ini menegaskan, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Dalam banyak konflik, kata SBY, sebab utamanya sebetulnya bukan benar-benar konflik agama. Melainkan, acapkali agama hanya dijadikan faktor untuk melegitimasi, memperkuat, dan memopulerkan penyebabnya, di mana dasarnya masalahnya justru ada pada perbedaan kepentingan politik, ekonomi, dan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, diperlukan dialog yang solutif dan damai. Melalui dialog, kita akan bisa bekerja sama. Kita bisa saling membantu untuk memecahkan masalah yang membuat kita saling berlawanan. Kita bisa saling membantu untuk mengatasi masalah-masalah politik, ekonomi, dan sosial yang menjadi akar permasalahan dari berbagai konflik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Sri Lee Kim Yew, Ketua Cheng Ho Multi Culture Trust Malaysia, merespon fenomena konflik dan kekerasan yang menggejala di berbagai belahan dunia bisa disikapi dengan melawan kekerasan melalui keluarga. Institusi keluarga bila diperhatikan secara serius akan mewujudkan perdamaian. Bagaimana kita harus mendidik dan mengarahkan keluarga untuk mencintai kedamaian, bukan konflik atau kekerasan. Bagi Tan Sri Lee Kim Yew, keluarga adalah lembaga pendidikan pertama yang mengajarkan nilai-nilai keluarga, termasuk kedamaian dan kebaikan. Bahkan, baik-buruknya seseorang juga dipengaruhi dari sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Asia, lanjut Lee Kim Yew, kita memiliki nilai-nilai Asia atau nilai keluarga Asia (budaya Timur). Bila kita masih memegang nilai-nilai itu maka kita masih punya harapan untuk mengatasi konflik dan kekerasan yang terjadi di berbagai kawasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof Syafii Ma’arif, mengakui ada kalanya agama digunakan sebagai penyebab membesarnya konflik yang terjadi di masyarakat. Akan tetapi, pada dasarnya agama bukanlah sumber konflik. Bergesernya fungsi agama tersebut, karena ada sebagian kelompok masyarakat yang mengaitkan konflik dengan agama. Bahkan, mereka ini memiliki pandangan bahwa bila terlibat dalam konflik yang mengatasnamakan agama, mereka akan masuk surga. Tak heran bila kemudian konflik kian membesar. Mestinya hal itu tidak usah terjadi, sebab semua agama mengajarkan umatnya untuk selalu mengedepankan perdamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama juga kerap menjadi sebab meredanya sebuah konflik yang berkepanjangan. Karena itulah, tokoh agama harusnya mampu memainkan peran untuk menjadikan agama tidak sebagai pemicu konflik, melainkan pereda konflik yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, Din Syamsuddin menengarai bahwa dampak globalisasi yang tidak merata, ketamakan, ketidakadilan, dan perampasan ekonomi menjadi pemicu kekerasan seperti yang terjadi di beberapa belahan dunia. Penggunaan senjata dan kesenjangan global, mendorong kelompok- kelompok tertentu untuk menggunakan kekerasan sebagai jalan pintas. Pemerintah harus mampu untuk mencegah dan menanggulanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pertemuan lintas agama dan budaya yang digelar 24–26 Juni lalu juga menekankan pentingnya aksi organisasi sosial untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat bawah. Langkah ini untuk mengurangi ketidakadilan yang tidak merata. Masyarakat di akar rumput ini, menjadi salah satu unsur penting yang harus terlibat penuh dalam proses politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan untuk mewujudkan dunia yang damai dan menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang indah bagi manusia tidak akan terwujud selama ketidakadilan, eksploitasi pihak yang kuat terhadap yang lemah, diskriminasi, dan sikap tidak toleran terus terjadi. Kekerasan dengan segala bentuknya juga menjadi penyumbang bagi ketidaknyamanan manusia. Itu sebabnya, pemerintah dari semua negara didesak untuk lebih berani mengambil aksi mewujudkan perdamaian ketimbang melakukan kekerasan dengan segala kemampuan masing-masing di mana pun dan sampai kapan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, fungsi media massa dalam masalah ini, memiliki peran penting untuk menciptakan suasana damai, toleran dan respek terhadap hak asasi manusia. Kekuatan media sebagai penyampai pesan damai diharapkan bisa meminimalisasi kerusuhan dan kekerasan yang menggurita. Semoga.***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-3251174091688746270?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/3251174091688746270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=3251174091688746270' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/3251174091688746270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/3251174091688746270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2008/07/agama-dan-inspirasi-perdamaian.html' title='Agama dan Inspirasi Perdamaian'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SG9Li4iw_DI/AAAAAAAAADU/3uV2E4R0tnM/s72-c/S8301617.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-1595048375457056177</id><published>2008-07-03T01:38:00.000-07:00</published><updated>2008-07-03T01:57:49.516-07:00</updated><title type='text'>Combating violence 'starts from home'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SGyUCeQ2pMI/AAAAAAAAADM/DToTL2j76dU/s1600-h/ChoirulMahfud+dgn+Tan+Sri+Lee+Kim+Yew+(Cheng+Ho+Mlysa).JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SGyUCeQ2pMI/AAAAAAAAADM/DToTL2j76dU/s400/ChoirulMahfud+dgn+Tan+Sri+Lee+Kim+Yew+(Cheng+Ho+Mlysa).JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218708838419965122" /&gt;&lt;/a&gt;Foto: CM bersama Mr. Tan Sri Lee Kim Yew (Malaysia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thu, 06/26/2008 10:33 AM  |  Headlines &lt;br /&gt;Kuala Lumpur, Malaysia-based Cheng Ho Multi Culture Trust and Indonesia's second largest Islamic organization, Muhammadiyah, are co-hosting the second World Peace Forum in Jakarta. The three-day conference, which was opened by President Susilo Bambang Yudhoyono on Tuesday, brings together some 200 prominent figures from across the globe to discuss ways to end violence. The Jakarta Post's Abdul Khalik spoke with Cheng Ho Multi Culture Trust chairman Tan Sri Lee Kim Yew on the sidelines of the event on his ideas for fostering peace. &lt;br /&gt;Question: What is your motivation in taking the lead in organizing this forum? &lt;br /&gt;Answer: My philosophy in life is that when people want to do good things then we should help and support them. If we can't give support, we give them compliments, and if we can't give compliments, at least we should stay in alignment. &lt;br /&gt;I think what Muhammadiyah planned to do was noble, as it wanted to gather all the leaders to try to overcome one of the world's most serious problems. That's why we fully support the initiative.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How do you see the current situation with conflicts and violence in the region? &lt;br /&gt;There's worry that the conflicts can escalate and create region-wide violence. But I think the conflicts and violence can still be repaired as far as the human conflicts and violence are concerned. &lt;br /&gt;But more concern is placed on violence against the environment, with people expressing worry about global warming, food and energy shortages, while more frequent natural disasters, such as cyclones, earthquakes and tsunamis, are taking place. &lt;br /&gt;We believe that both violence on humans and the environment must be addressed together because they create misery for people. &lt;br /&gt;How we can address both of these problems? &lt;br /&gt;Conflicts among human beings can be diminished when we think it's better to have friends than enemies. We should forgive people rather than taking revenge and we should support the truth and avoid manipulating. &lt;br /&gt;Regionally, I am quite optimistic because we have Asian values, which mean family values. As long as we don't lose family values we have hope to avoid conflicts. &lt;br /&gt;That's why I support the Indonesian initiative to foster dialogue to seek solutions to the problems. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What about ethnic and religious diversity among the Asian community? Will this be a problem? &lt;br /&gt;I think people should begin to accept differences. They can freely practice their religion, but when it comes to others' different beliefs, they should show respect and tolerance. &lt;br /&gt;I think, instead of exaggerating differences, we should focus on our similar values. For instance, we should emphasize the fact that every religion teaches to respects others. &lt;br /&gt;You speak of the importance of family values. How can these values help stop conflict and violence? &lt;br /&gt;You see, every individual comes from society and family. A noble or a violent person comes out of a family. If a person from a young age respects their parents, then he will at least be a good person within his or her society. &lt;br /&gt;Family is the first place for education about values -- which is good or bad. As I think all Asian families teach peace and respect to each other, instead of violence and dishonoring others, then conflicts and violence can be avoided when we resort to true Asian values. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How can we reduce environmental damage resulting from violent human activities? &lt;br /&gt;First, we must realize that we need the planet, but the planet doesn't need us. For me, capitalism is good but it has its bottleneck so adjustments must be made. For example, if we continue to produce cars then there will billions of cars on the streets. &lt;br /&gt;Imagine, how much gas will be burned. We have no choice but to dig deeper in order to get more oil. But the question then is how human beings can change their behavior. In this case, how people can reduce the level of consumption by being thrifty, as scientists continue to find breakthroughs in finding replacements for fossil fuels. &lt;br /&gt;Last but not least, we need support from businesspeople to continue to develop ideas into reality. &lt;br /&gt;Source: http://www.thejakartapost.com/news/2008/06/26/combating-violence-039starts-home039.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-1595048375457056177?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/1595048375457056177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=1595048375457056177' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/1595048375457056177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/1595048375457056177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2008/07/combating-violence-starts-from-home.html' title='Combating violence &apos;starts from home&apos;'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SGyUCeQ2pMI/AAAAAAAAADM/DToTL2j76dU/s72-c/ChoirulMahfud+dgn+Tan+Sri+Lee+Kim+Yew+(Cheng+Ho+Mlysa).JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-3131236107710449788</id><published>2008-05-29T01:42:00.000-07:00</published><updated>2008-06-03T23:49:47.837-07:00</updated><title type='text'>Memahami Cakrawala Pendidikan Multikultural</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SD5tznoWBKI/AAAAAAAAAC4/NQvCIj-AzRI/s1600-h/Cover%2BBuku%2BMULTIKULTURAL.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SD5tznoWBKI/AAAAAAAAAC4/NQvCIj-AzRI/s200/Cover%2BBuku%2BMULTIKULTURAL.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205718952865825954" /&gt;&lt;/a&gt;Peresensi: A. Yusrianto Elga*&lt;br /&gt;Judul: Pendidikan Multikultural&lt;br /&gt;Penulis: Choirul Mahfud&lt;br /&gt;Penerbit: Pustaka Pelajar, Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluasnya disintegrasi sosial merupakan salah satu fenomena krusial yang telah membuat negeri ini terbengkalai. Konflik horisontal antarsuku, agama, ras, misalnya, dan berbagai golongan sampai saat ini masih marak terjadi. Tragedi kekerasan antarkelompok yang meledak secara sporadis diakhir tahun 1990-an, misalnya, kemudian konflik kekerasan yang bernuansa politis, etnis dan agama seperti yang terjadi di berbagai wilayah Aceh, Maluku, Kalimantan Barat dan Tengah, merupakan salah satu fakta yang tidak terbantahkan bahwa dalam lingkaran sosial bangsa Indonesia masih kokoh semangat narsistik-egosentrisnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta paling mutakhir berkenaan dengan masalah tersebut adalah bergolaknya kembali konflik bernuansa agama di Ambon. Hal itu juga menjadi bukti betapa rapuhnya konstruksi kebangsaan berbasis multikulturalisme di negeri kita. Sehingga tidak heran kalau belakangan ini rasa kebersamaan sudah tidak tampak lagi dan nilai-nilai kebudayaan yang dibangun menjadi terberangus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena itu, buku ini hadir dalam rangka merajut kebersamaan dan saling pengertian antarsesama bangsa dalam bingkai pendidikan berbasis multikulturalisme. Multikulturalisme adalah sebuah paham yang menekankan pada kesederajatan dan kesetaraan budaya-budaya lokal tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya lain. Hal ini sangat penting kita pahami bersama dalam kehidupan masyarakat yang multikultural seperti di Indonesia ini. Sebab bagaimana pun secara riil, bangsa Indonesia memiliki keragaman bahasa, sosial, agama, budaya dan sebagainya. Keragaman tersebut amat kondusif bagi munculnya konflik dalam berbagai dimensi kehidupan (hal.8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya ketidaksalingpengertian dan pemahaman terhadap realitas kehidupan itulah yang menjadi kajian utama pendidikan multikultural (Multicultural education). Pendidikan multikultural merupakan respons terhadap perkembangan zaman yang semakin kompleks, di mana egosentrisme, etnosentrisme, dan chauvinisme yang pada gilirannya memunculkan klaim kebenaran (truth claim) terus menggejala pada masing-masing individu. Dengan demikian, pada prinsipnya, pendidikan multikultural adalah menghargai perbedaan. Pendidikan multikultural senantiasa menciptakan struktur dan proses di mana setiap kebudayaan bisa melakukan ekspresi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hilda Hernandez Dalam Multicultural Education: A Teacher Guide to Linking Context, Process, and Content (1989), mengartikan pendidikan multikultural sebagai perspektif yang mengakui realitas politik, sosial, ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur, dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan. Atau dengan kata lain, bahwa ruang pendidikan sebagi media transformasi ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) hendaknya mampu memberikan nilai-nilai multikulturalisme dengan cara saling menghargai dan menghormati atas realitas yang beragam (plural), baik latar belakang maupun basis sosio budaya yang melingkupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sejalan dengan pemikiran Paulo Freire. Dalam pedagogy of the oppressed, sebagaimana dikutip oleh M. Yunus Firdaus dalam buku: Pendidikan Berbasis Realitas Sosial (2005), Freire mengatakan bahwa pendidikan harus mampu menciptakan harmonisme sosial dalam sebuah kehidupan masyarakat yang beragam secara kultur. Sebab pendidikan bukanlah “menara gading” yang harus menjauhi hiruk-pikuk kehidupan sosial. Apalagi di negara Indonesia yang rentan terjadi konflik. Karena itu, pendidikan berbasis multikulturalisme sudah saatnya dijadikan sebagai paradigma atau pijakan dalam sistem pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab bagaimana pun juga, pendidikan multikultural dapat memberikan solusi bagi sejumlah permasalahan yang dihadapi Indonesia. Pertama, sebagai sarana alternatif pemecahan konflik. Penyelenggaraan pendidikan multikultural di dunia pendidikan diyakini dapat menjadi solusi nyata bagi konflik dan disharmonisasi yang terjadi di masyarakat, khususnya yang kerap terjadi di Indonesia yang secara realitas plural. Spektrum kultur masyarakat Indonesia yang amat beragam menjadi tantangan bagi dunia pendidikan guna mengolah perbedaan tersebut menjadi suatu aset, bukan sumber perpecahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, pendidikan multikultural juga signifikan dalam membina peserta didik supaya tidak tercerabut dari akar budaya yang ia miliki sebelumnya, ketika berhadapan dengan realitas sosial-budaya di era globalisasi. Sebab disadari maupun tidak, dalam era globalisasi saat ini, pertemuan antarbudaya menjadi “ancaman” serius bagi peserta didik. Untuk menyikapi realitas global tersebut, peserta didik hendaknya diberi penyadaran akan pengetahuan yang beragam, sehingga mereka memiliki kompetensi yang luas akan pengetahuan global, termasuk aspek kebudayaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, sebagai landasan pengembangan kurikulum nasional. Pengembangan kurikulum masa depan yang berdasarkan pendekatan multikulturalisme menjadi sangat penting. Langkah demikian dapat dilakukan setidaknya dengan mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini menjadi filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan. Filosofi konservatif seperti esensialisme dan perenialisme haruslah dapat diubah ke filosofi yang lebih menekankan pendidikan sebagai upaya mengembangkan kemanusiaan peserta didik. Kemudian, filosofi kurikulum yang progresif seperti humanisme, progresifisme dan rekonstruksi sosial dapat dijadikan sebagai landasan kurikulum (hal.208-210).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan demikian, pendidikan berbasis multikulturalisme pada akhirnya akan memberikan sebuah pencerahan: yakni kearifan untuk melihat keanekaragaman budaya sebagai realitas fundamental dalam kehidupan masyarakat. Kearifan itu muncul seiring dengan adanya keterbukaan untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural sebagai kemestian hidup yang kodrati. Sebagaimana dikatakan oleh Musa Asy’ari (2004), bahwa keanekaragaman dalam realitas kehidupan manusia adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Peresensi adalah staf redaksi Advokasia Fakultas Syar’iah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://pmiikomfaksyahum.wordpress.com/2007/07/28/memahami-cakrawala-pendidikan-multikultural/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-3131236107710449788?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/3131236107710449788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=3131236107710449788' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/3131236107710449788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/3131236107710449788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2008/05/memahami-cakrawala-pendidikan.html' title='Memahami Cakrawala Pendidikan Multikultural'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/SD5tznoWBKI/AAAAAAAAAC4/NQvCIj-AzRI/s72-c/Cover%2BBuku%2BMULTIKULTURAL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-25217169559820166</id><published>2008-02-13T19:55:00.000-08:00</published><updated>2008-03-18T23:17:51.252-07:00</updated><title type='text'>Harmonisasi Agama dan Budaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CvKyrP6JI/AAAAAAAAACI/_ZOhkkAK7l4/s1600-h/bali+dua.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CvKyrP6JI/AAAAAAAAACI/_ZOhkkAK7l4/s200/bali+dua.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179332171412793490" /&gt;&lt;/a&gt; Salah satu isu pinggiran dalam studi agama dewasa ini adalah soal eksistensi, transformasi dan relasi agama dan budaya lokal (local cultures). Dalam diskursus pluralisme yang merebak belum lama ini, tema budaya lokal masih mengalami peminggiran. Padahal, untuk membangun masyarakat Indonesia yang kokoh dan berkarakter mestinya pengembangan sikap kreatif dan inovatif atas lokalitas perlu menjadi titik pijak untuk maju. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu disadari bersama, bahwa jutaan kebudayaan lokal yang hidup di negeri ini, termasuk di Jawa, bukanlah semata-mata warna-warni dan simbol perbedaan yang eksotik, melainkan juga kekayaan sekaligus modal sosio-kultural (socio-cultural capital) bangsa kita untuk menjadi bangsa besar. Sebab, kebudayaan lokal itu menyimpan pengalaman, sejarah, jejak-jejak kreativitas dan capaian peradaban tertentu. Dalam konteks ini, relasi dan konfrontasi agama dan budaya menemukan momentumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1973) memandang agama sebagai bagian dari sistem budaya. Ia menyingkap aksi dan tafsir agama merupakan hal-hal yang luar biasa dan khas. Karenanya, kata Geertz, aksi agama tidak bisa dijelaskan dengan cara penjelasan saintis semata. Pasalnya, manusia berbeda dari binatang. Manusia hidup dalam sistem makna yang complicated dan untuk memahaminya digunakan metode yang tepat, yakni interpretasi melalui mata dan ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui kebudayaan lokal, kita bisa belajar mengenai pergulatan menata sistem kepemilikan dan pemanfaatan tanah, distribusi kekayaan, pelestarian lingkungan, pengelolaan cita rasa, penyeimbangan hubungan sosial dan bagaimana berdialog atas pemikiran dan agama lain yang masuk ke dalam wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, fakta stigmatisasi, klaim dan penghancuran komunitas "agama lokal" di hampir seluruh wilayah Nusantara sejak paro akhir tahun 60-an hingga sekarang, menyentuh kesadaran dan keprihatinan kita. Bagaimana kita, sadar atau tidak, telah menghancurkan akar dan modal sosio-kultural kita, berupa komunitas-komunitas agama lokal yang merupakan kekayaan bangsa dan beberapa abad berhasil membangun sistem sosio-kultural yang menjadi penyangga keberlangsungan hidup berbagai komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, pada poin ini terletak akar krisis kebangsaan dan keagamaan kita dewasa ini yang ditandai dengan merebaknya berbagai konflik antaretnik, antaragama, dan bahkan tuntutan disintegrasi bangsa. Persoalan yang terjadi di Aceh, Ambon, Poso dan Papua, misalnya, tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai konflik daerah dan pusat di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dalam perspektif ekonomis dan politis semata. Melainkan juga telah menjadi konflik identitas sosio-kultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, tidak mengherankan kalau dalam kajian mutakhir upaya mengatasi krisis multidimensi yang dirasakan seluruh elemen bangsa dewasa ini berujung pada satu muara, yaitu tidak ada filsafat dan sistem sosio-kultural milik kita sendiri yang bisa kita jadikan pijakan untuk mengatasi krisis tersebut, baik di bidang politik, ekonomi, pendidikan maupun kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi agama dan budaya ibarat dua sisi mata uang. Keduanya saling berkait berkelindan dan manakala tidak ada satu maka menjadi tak bermakna. Indonesia memiliki kekayaan keragaman suku bangsa, adat istiadat, dan agama. Potensi dan modal sosial ini bisa menjadi masalah sekaligus peluang untuk menjadikan negeri ini sebagai negara besar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, mempertautkan agama dan budaya untuk mewujudkan idealisme tersebut perlu diikhtiarkan terus menerus. Apalagi, negeri ini sebetulnya telah memiliki nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang mengakomodasi perbedaan untuk perdamaian dan ketentraman masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pela Gandong di Maluku misalnya, sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang nilai-nilainya bersumber pada kepercayaan lokal sudah terjalin ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun membangun masyarakat Maluku yang rukun dan damai. Itu juga termasuk pranata sosiokultural yang sudah lama mengakar dan ditanamkan para tetua adat yang mengakar dalam interaksi sosial. Bingkai kerukunan Pela Gandong tidak memandang suku, ras, agama dan golongan. Terbukti selama ratusan tahun mampu memperkokoh rasa kekeluargaan dalam menangkal perpecahan maupun isu negatif yang dihembuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, di masyarakat Kaharingan yang mengedepankan kehidupan damai, kerja sama dan solidaritas tinggi terhadap agama lain. Kondisi ini ditunjang oleh kehidupan adat dan budaya seluruh suku Dayak. Secara faktual, simbol kesediaan dan kerelaan masyarakat Dayak untuk selalu hidup damai dengan masyarakat dan kelompok berbeda sesungguhnya sudah diperlihatkan dalam kehidupan Rumah Bentang Dayak yaitu rumah panjang, adat. Rumah Bentang menggambarkan kehidupan yang mau membuka lebar keberagaman, mengayomi semua pihak, solidaritas, melindungi dan mendamaikan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masyarakat adat Tengger, tak kalah unik. Dalam adat Tengger ada ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti panca setya, yaitu setya budaya (tekun, taat, mandiri), setya wacana (setia pada ucapan dan perkataan), setya semaya (menepati janji), setya laksana (patuh dan taat), dan setya mitra (setia kawan). Ajaran ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat adat Tengger. Ini tampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat yang menunjukkan sifat dan sikap seperti tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran di atas, tampaknya masyarakat kini mulai belajar dari realitas keragaman untuk meredam konflik dan kekerasan. Mereka menganggap konflik sebagai kesalahan yang tidak perlu diulang kembali. Di Aceh, misalnya, indikasi ini bisa dilihat dari proses-proses perdamaian, mulai dari kesepakatan Helsinki, penyerahan senjata dan penarikan pasukan TNI yang dipantau oleh Aceh Monitoring Mission (AMM), hingga pilkada yang aman dan demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, di akhir catatan ini kita perlu terus berikhtiar dan mencoba merancang masa depan Indonesia yang lebih baik, harmonis, sejahtera dan damai dalam bingkai keragaman (Bhineka Tunggal Ika).***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Choirul Mahfud: Penulis adalah dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=191283&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-25217169559820166?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/25217169559820166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=25217169559820166' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/25217169559820166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/25217169559820166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2008/02/harmonisasi-agama-dan-budaya.html' title='Harmonisasi Agama dan Budaya'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CvKyrP6JI/AAAAAAAAACI/_ZOhkkAK7l4/s72-c/bali+dua.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-5404993585988592103</id><published>2008-02-13T19:50:00.000-08:00</published><updated>2008-02-13T20:00:40.204-08:00</updated><title type='text'>Multikulturalisme dan Demokrasi Lokal</title><content type='html'>Akhir-akhir ini,wacana demokrasi lokal dan politik multikultural banyak diperbincangkan berbagai kalangan. Hal itu dilatarbelakangi perubahan iklim politik global yang mengarah pada upaya demokratisasi pemerintahan lokal di hampir seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Robert W Hefner (2007),dalam magnum opusnya Multiculturalism Politics membicarakan wacana dan praktik demokrasi dan multikulturalisme beserta tantangan-tantangannya di Indonesia secara khusus dan di Asia Tenggara pada umumnya. Dalam konteks ini,pertanyaan awal yang muncul mengapa multikulturalisme bukan saja harus ditebarkan melalui pendidikan,juga pada institusi politik? &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat,jawabannya adalah institusi politik sebagaimana lembaga pendidikan diyakini mampu melakukan perubahan secara signifikan. Lembaga politik selain sebagai instrumen demokrasi juga memiliki kekuatan untuk membuat kebijakan yang memihak kepada rakyat dan kebaikan- kebaikan untuk bangsa ini. Sayangnya, selama ini institusi politik ’’mati suri”. Pasalnya,kekuasaan anggota dewan yang terhormat ternyata mulai disalahgunakan sembari menunjukkan prilaku menyimpang lainnya yang tidak perlu ditiru kita semua demi perbaikan negeri ini.Pasca-Orde Baru (Orba) yang ditandai dengan era reformasi pada 1998,hingga kini isu-isu politik kebudayaan di negeri ini mengemuka dan berkembang pesat. Salah satunya adalah isu politik multikulturalisme yang dipandang dapat menjadi perekat baru integrasi bangsa yang sekian lama tercabik-cabik melelahkan. Integrasi nasional yang selama ini dibangun berdasarkan politik kebudayaan lebih cenderung seragam (politik monokultural) dianggap tidak lagi relevan dengan kondisi dan semangat demokrasi global yang juga meningkat sejalan dengan reformasi tersebut.Desentralisasi kekuasaan dalam bentuk otonomi daerah semenjak 1999 adalah jawaban bagi tuntutan demokrasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata,desentralisasi sebagai putusan politik nasional itu disadari tidak begitu produktif apabila dilihat dari kacamata integrasi nasional suatu bangsa besar,yang isinya luar biasa beraneka ragam suku bangsa, etnis,agama,kondisi geografi,kemampuan ekonomi,dan status sosial. Pada masa lalu,corak dan model kekuatan pengikat keanekaragaman itu adalah model politik sentralisasi yang berpusat pada kekuasaan pemerintah yang otoritarian. Pada masa kini apabila konsepsi model multikulturalisme itu digarap lebih jauh –selain dari keanekaragaman di atas, juga persoalan mayoritas-minoritas,dominan- tidak dominan yang juga mengandung kompleksitas persoalan–,mau tak mau kita harus memikirkan bersama bila tidak mau terus terjerat masalah yang sama. Pada hakikatnya,kemajemukan kultur telah memperkaya Indonesia sebagai nation state yang multikultural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kebutuhan untuk merespons keragaman tersebut kian mendesak.Franz Magnis-Suseno (2006) menengarai hal ini sebagai kebutuhan mendesak yang harus segera dilaksanakan. Pasalnya,negeri ini dibentuk oleh realitas kemajemukan itu dan mustahil menolaknya dengan alasan apa pun. Walaupun wacana pluralisme oleh sebagian elite agamawan distigma sebagai biang pemurtadan dan perusak iman,secara ontologis,pluralisme itu menjadi penguat etis bagi peneguhan sikap keberagaman yang lebih inklusif,terbuka,dan toleran.Karena itu,di sini perlu dipahami bahwa sentimen keagamaan sering dibangun agamawan yang gencar menerapkan politik representasi secara terus menerus. Politik ini menegaskan sikap mewakili rakyat,umat,atau kelompok tertentu agar diakui legitimasinya sebagai pembela kelompok subaltern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktiknya,politik ini sering diselewengkan demi kepentingan politik terselubung.Maka itu,kini dibutuhkan politik multikulturalisme ideal untuk membongkar sekat-sekat politik representasi yang cenderung mengooptasi dan memanipulasi potensi sentimen etnoreligius atas nama subaltern,yaitu kelompok yang jauh dari pusat kekuasaan. Selain itu,perlu dipahami bahwa multikulturalisme mengantongi kelebihan etis dan praktis,tetapi mengandung kekurangan dalam satu hal,yakni membatasi fungsi rasio hanya sebagai sebuah strategi untuk mempertahankan hidup dan hidup lebih sejahtera.Rasio sebenarnya dapat beroperasi dengan bertolak dari pangkalan yang sama sekali tak berhubungan dengan pengalaman langsung,berkelana di wilayah-wilayah abstrak,dan berhenti pada oasis-oasis abstrak dari gurun abstrak tanpa tepi.Rasio adalah operasi imajinasi, tapi imajinasi itu adalah imajinasi rasional. Artinya,imajinasi yang memiliki disiplin diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Multikulturalisme berasumsi bahwa etnosentrisme,xenosentrisme,dan xenofobia bukan tutur kata dan sikap yang relevan. Yang relevan ialah kewajiban untuk menghormati hak-hak atas keanekaan budaya. Jadi,multikulturalisme memproklamirkan emansipasi budaya-budaya kecil yang masing-masing juga memiliki hak hidup yang wajib dihormati. Mengikuti pandangan Bikkhu Parekh (2001) dalam bukunya Rethinking Multiculturalism, istilah multikulturalisme mengandung tiga komponen penting, yakni terkait dengan kebudayaan,konsep ini merujuk kepada pluralitas kebudayaan, dan cara tertentu untuk merespons pluralitas itu.Karena itu,multikulturalisme bukanlah doktrin politik pragmatik, melainkan sebagai cara pandang kehidupan manusia.Sebab,hampir semua negara di dunia tersusun dari aneka ragam kebudayaan.Artinya,perbedaan menjadi asasnya dan gerakan manusia dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi semakin intensif.Karena itu,multikulturalisme harus diterjemahkan ke dalam kebijakan multikultural sebagai politik pengelolaan perbedaan kebudayaan warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis,belakangan ini pendekatan multikulturalisme (multiculturalism approach) relevan bagi upaya membangun dialog dengan semua elemen masyarakat agama,sosial,politik,dan lain-lain di Tanah Air.Bisa jadi,tokoh politik nasional masa depan yang dikehendaki adalah mereka yang memiliki visi politik multikultural bukan politik monokultural yang pernah dipakai rezim Soeharto.Untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka pada era demokratisasi dewasa ini,semua pihak hendaknya tidak berbenturan dan konflik karena perbedaan pandangan. Pasalnya,manakala terus membiarkan berbagai konflik tersebut,sudah pasti menghabiskan biaya besar (high cost) dan berdampak multiplikasi,menghabiskan sumber daya,dan saling membinasakan. Kita telah menyaksikan konflik apa pun di dunia ini,tapi perdamaian acap kali jauh lebih sulit diwujudkan meski perang itu sendiri bisa diakhiri.Sejarah sudah menunjukkan kenyataan pahit dan muram ini.Saat ini,tak bisa ditawar lagi semua elemen masyarakat,pemerintah, elite politik,dan gerakan civil society perlu terus mendorong praktik politik multikulturalisme sesuai karakteristik budaya bangsa yang Bhineka Tunggal Ika ini. Dalam konteks semacam ini,memiliki rasa tanggung jawab untuk melaksanakannya saja tidak cukup.Lebih dari itu, kesadaran yang diiringi kinerja dan prestasi tinggi sangat diperlukan demi kemajuan bangsa tercinta ini.(*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CHOIRUL MAHFUD, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS), Dosen Universitas Muhammadiyah, Surabaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See:http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/opini-sore/multikulturalisme-dan-demokrasi-lokal-2.html&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-5404993585988592103?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/5404993585988592103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=5404993585988592103' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/5404993585988592103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/5404993585988592103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2008/02/multikulturalisme-dan-demokrasi-lokal.html' title='Multikulturalisme dan Demokrasi Lokal'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-6883946727607862770</id><published>2008-01-10T20:05:00.000-08:00</published><updated>2008-01-11T00:10:28.059-08:00</updated><title type='text'>Mengkaji Ulang Islam Multikultural</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R4ckRdbWD3I/AAAAAAAAAA8/GW03aDMv30c/s1600-h/foto+siip.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R4ckRdbWD3I/AAAAAAAAAA8/GW03aDMv30c/s200/foto+siip.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154128180924518258" /&gt;&lt;/a&gt; Pascatragedi 11 September 2001, diskursus Islam terus menjadi topik aktual dan menarik perhatian banyak kalangan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di tanah air, misalnya, pertarungan wacana dan ideologi Islam kembali mencuat ke permukaan yang diwakili dua kutub yang saling berseberangan: antara kubu fundamental di satu pihak dan kubu liberal di lain pihak. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perdebatan wacana ini, tentu saja beda pendapat dan konflik sosial pun acapkali tidak bisa dihindari. Bahkan, klaim kebenaran (truth claim), tuduh-menuduh, penghakiman dan pengkafiran seolah menjadi santapan sehari-hari dalam kehidupan beragama di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret di atas merupakan realitas empirik yang sering dijumpai beberapa tahun lalu, meski akhir-akhir ini wacana tersebut agak redup akibat kalah isu dengan wacana politik, infotainment selebriti dan peristiwa bencana alam di berbagai pelosok tanah air. Namun begitu, bukan berarti perdebatan Islam di nusantara menjadi stagnan, justru dengan ramainya wacana tersebut menjadikan perdebatan agama terus menguat dan kian ramai. Setidaknya hal itu ditandai dengan munculnya banyak kelompok kajian, aliran keagamaan, dan golongan-golongan dalam semua agama, khususnya di Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Multikultural &lt;br /&gt;Dalam konteks tersebut, memperbincangkan diskursus Islam multikultural di Indonesia menemukan momentumnya. Sebab, selama ini Islam secara realitas seringkali ditafsirkan tunggal bukan jamak atau multikultural. Padahal, di Nusantara realitas Islam multikultural sangat kental, baik secara sosio-historis maupun glokal (global-lokal). Secara lokal, misalnya, Islam di nusantara dibagi oleh Clifford Geertz dalam trikotomi: santri, abangan dan priyayi; atau dalam perspektif dikotomi Deliar Noer, yaitu Islam tradisional dan modern; dan masih banyak lagi pandangan lain seperti liberal, fundamental, moderat, radikal dan sebagainya. Secara sosio-historis, hadirnya Islam di Indonesia juga tidak bisa lepas dari konteks multikultural sebagaimana yang bisa dibaca dalam sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang dibawa oleh Walisongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, realitas multikultural tersebut kadangkala menantang kita untuk bisa bersikap lebih arif dan bijak. Di satu sisi, misalnya, mungkin kita merasa bangga dengan munculnya banyak aliran, kelompok dan golongan dalam Islam, sehingga dengan leluasa bisa memilih dan bergabung dengan aliran yang banyak tersebut. Tetapi, pada sisi lain sebagian kita pasti ada yang bingung dan resah akibat munculnya ragam kelompok dalam Islam di Indonesia belakangan ini, seperti Ahmadiyah, Lia Eden, Yusman Roy, JIL, JIMM, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, perbincangan Islam multikultural bukan wacana baru karena sebelumnya sudah banyak pakar Muslim telah melakukan kajian ini. Dalam buku Democratic Pluralism in Islam, misalnya, Abdul Aziz Sachedina pernah merekam dan mengungkap wajah pluralistik Islam baik secara normatif maupun historis. Bagi dia, secara normatif, sumber ajaran Islam yakni Al-Qur’an dan Hadits telah menjelaskan perlunya kenal-mengenal (ta`aruf) antarsuku bangsa dan agama (Q.S. al-Hujurat:13). Bahkan, Hassan Hanafi pernah melontarkan kritik yang dituangkan dalam buku al-Yasar al-Islami (Kiri Islam), tentang perlunya rekonstruksi pemikiran Islam dan pemihakan kaum tertindas akibat perbedaan status, gender dan kultur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, menjadikan Islam multikultural sebagai topik atau wacana masih menarik dan perlu disebar-luaskan. Hal ini setidaknya karena tiga alasan. Pertama, situasi dan kondisi konflik. Di tengah-tengah keadaan yang sering konflik, Islam multikultural menghendaki terwujudnya masyarakat Islam yang cinta damai, harmonis dan toleran. Karenanya, cita-cita untuk menciptakan dan mendorong terwujudnya situasi dan kondisi yang damai, tertib dan harmonis menjadi agenda penting bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Di tanah air, kasus konflik sosial di Poso, Ambon, Papua dan daerah lain merupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, realitas yang bhinneka. Ke-bhinneka-an agama, etnis, suku, dan bahasa menjadi keharusan untuk disikapi oleh semua pihak, terutama umat Islam di Indonesia. Sebab, tanggung jawab sosial bukan hanya ada pada pemerintah tapi juga umat beragama. Dengan lain kata, damai-konfliknya masyarakat juga bergantung pada kontribusi penciptaan suasana damai oleh umat beragama, termasuk kaum Muslimin di negeri ini. Robert N. Bellah, sosiolog agama dari Amerika serikat, mengatakan bahwa melalui Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab, Islam telah menjadi peradaban multikultural yang amat besar, dahsyat dan mengagumkan hingga melampaui kebesaran negeri lahirnya Islam sendiri, yaitu Jazirah Arab. Pada konteks ini, toleransi dan sikap saling menghargai karena perbedaan agama, sebagaimana diungkap Wilfred Cantwell Smith, perlu terus dijaga dan dibudayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, norma agama. Sebagai sebuah ajaran luhur tentu agama menjadi dasar yang kuat bagi kaum agamawan pada umumnya untuk membuat kondisi agar tidak carut-marut. Dalam hal ini, tafsir agama diharapkan bukan semata-mata mendasarkan pada teks, tetapi juga konteks agar maksud teks bisa ditangkap sesuai makna zaman. Perdebatan antara aliran ta`aqqully yang mendasarkan pada kekuatan rasio/akal dan aliran ta`abbudy yang menyandarkan pada aspek teks telah diwakili oleh dua aliran besar, yaitu Mu`tazilah dan Asy`ariyah, bisa menjadi pelajaran masa lalu yang amat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prospek ke Depan&lt;br /&gt;Di tengah situasi konflik akhir-akhir ini, masa depan Islam multikultural tampaknya bisa menjadi wacana alternatif atas problematika Islam kontemporer. Lebih-lebih di Indonesia yang masyarakatnya majemuk, plural dan beragam dalam berbagai hal, wacana Islam multikultural bisa dikatakan strategis untuk ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, NU dan organisasi keagamaan lainnya di era multikultural seperti saat ini sudah seharusnya memposisikan diri sebagai koordinator bukan instruktur. Fungsi koordinatif ketimbang instruktif bagi lembaga keagamaan di negeri ini menjadi penting karena dominasi salah satu pihak atas organisasi keagamaan akan menimbulkan konflik dan awal munculnya diskriminasi social, dan secara langsung atau tidak langsung telah menghilangkan eksistensi salah satu pihak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan atas pihak lain dengan jalan membuka dialog bersama guna membuat dan memutuskan kebijakan (decision making) menjadi penting. Tentu saja hal itu dilakukan dalam persoalan-persoalan yang relevan dan berkaitan erat dengan masalah dan kepentingan hidup bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pihak negara sudah seharusnya tidak banyak ikut terlibat dalam urusan-urusan agama dan keluarga hingga yang sangat pribadi, seperti soal poligami. Isu poligami yang ramai kembali akibat berita A’a Gym menikah dengan Teh Rini membuat negara ikut-ikutan campur tangan. Menurut hemat penulis, biarlah persoalan agama lebih banyak diserahkan kepada kaum agamawan, sedangkan pemerintah sebaiknya hanya memberi pelayanan sebaik-baiknya dalam urusan-urusan publik, bukan malah ikut campur tangan dalam masalah agama hingga persoalan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara dan agama sudah seharusnya tetap menjalin komunikasi dan sinergi dalam mengelola realitas multikultural di negeri ini. Komunikasi merupakan jalan dialog sebagai upaya saling mengenal dan memahami maksud-tujuan eksistensi dan relasi agama-negara. Hal itu juga merupakan sinergi sebagai gerakan bersama dalam mewujudkan cita-cita masyarakat berkeadilan dan berkesetaraan, sesuai visi UUD 1945 dan Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, gagasan Islam multikultural menghendaki kesediaan menerima perbedaan lain (others), baik perbedaan kelompok, aliran, etnis, suku, budaya dan agama. Lebih dari sekadar merayakan perbedaan (more than celebrate multiculturalism), Islam multikultural juga mendorong sinergi untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil, damai, toleran, harmonis dan sejahtera. Pertanyaan akhir sebagai penutup tulisan ini adalah, beranikah kita ber-Islam secara multikultural?[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya; yang telah menulis buku Pendidikan Multikultural (2006).&lt;br /&gt;Suara Muhammadiyah edisi 1-15 Maret 2007.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-6883946727607862770?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/6883946727607862770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=6883946727607862770' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/6883946727607862770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/6883946727607862770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2008/01/mengkaji-ulang-islam-multikultural.html' title='Mengkaji Ulang Islam Multikultural'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R4ckRdbWD3I/AAAAAAAAAA8/GW03aDMv30c/s72-c/foto+siip.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-3261901705516180650</id><published>2008-01-10T19:59:00.001-08:00</published><updated>2008-03-18T23:21:26.061-07:00</updated><title type='text'>Aksi Buruh dan Perbaikan Nasib</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CwzCrP6KI/AAAAAAAAACQ/ayNumlgJ5zA/s1600-h/buruh.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CwzCrP6KI/AAAAAAAAACQ/ayNumlgJ5zA/s200/buruh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179333962414155938" /&gt;&lt;/a&gt; Sejak runtuhnya rezim Soeharto, Mei 1998, peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day) yang jatuh 1 Mei selalu digelar secara terbuka dan masif oleh kaum buruh dan aktivis yang memperjuangkan hak-hak kaum buruh di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Aksi tersebut sangat wajar, sebab semasa Soeharto berkuasa, peringatan May Day masuk kategori aktivitas subversif, apalagi May Day selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis. Konotasi ini jelas merugikan kaum buruh karena mayoritas negara-negara di dunia ini menetapkan 1 Mei sebagai Labour Day dan menjadikannya hari libur. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kekhawatiran atas gerakan massa buruh yang dimobilisasi setiap 1 Mei membuahkan gerakan anarkis sebetulnya sungguh ironis sebab asumsi tersebut ternyata tidak pernah terbukti. Sejak peringatan May Day 1999 hingga kini tidak pernah ada tindakan destruktif yang dilakukan oleh gerakan massa buruh yang masuk kategori membahayakan ketertiban umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi malahan tindakan represif aparat keamanan terhadap kaum buruh karena mereka masih berpedoman pada paradigma lama yang menganggap peringatan May Day adalah subversif.&lt;br /&gt;Karena itu sangatlah berlebihan apabila dalam peringatan May Day 2007 ini muncul opini yang cenderung mendiskreditkan gerakan buruh. May Day Phobia sangat terlihat dari pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh pejabat publik di negeri ini.&lt;br /&gt;Dalam iklim demokrasi, unjuk rasa adalah bagian terpenting ketika pintu dialog tidak lagi mampu menjawab masalah-masalah publik, termasuk masalah buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat persoalan perburuhan saat ini, ada peran intelektual dari bentuk skenario imperialisme global yang diperankan aktor neo-liberal, baik di level lembaga finansial internasional, perusahaan transnasional, dan berbagai kesepakatan organisasi perdagangan dunia yang begitu kuat menekan pemerintah. Sepuluh tahun lalu secara implisit Bank Dunia menyatakan telah mengendalikan ketergantungan utang Indonesia. Jadi wajar bila perjuangan kaum buruh memperoleh hak secara layak telah lama dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1920, kali pertama kaum buruh di Indonesia secara terorganisasi memperingati Hari Buruh untuk memprotes kebijakan kaum pengusaha yang secara sepihak mengecilkan peran kaum buruh dalam faktor produksi. Namun, sejak masa pemerintahan Orde Baru, Hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Alasannya sangat klise yakni selalu dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Orde Baru berakhir, aksi kaum buruh turun ke jalan kembali marak di berbagai kota di Indonesia. Tujuannya satu, menuntut perbaikan nasib kaum buruh menjadi lebih layak dalam menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Hampir sepanjang sejarah kehidupan dunia, juga di Indonesia, nasib kaum buruh selalu mengenaskan. Kaum buruh dijadikan alat penarik kepentingan modal dan investasi asing demi meraih keuntungan sepihak, yaitu penguasa dan pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat seksama, aksi buruh tidaklah berlebihan, mengingat kondisi kaum buruh di negeri ini masih termarginalisasi, tertindas, tidak memiliki daya tawar, mudah 'dibohongi'. Selain itu, buruh sangat mudah dijadikan objek kepentingan politik penguasa dan pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, posisi buruh selama ini sekadar penjual tenaga kerja, tidak lebih. Sementara posisi pengusaha adalah pembeli tenaga kerja, yang bebas memilih dan menggunakan, sekaligus mengawasi jalannya proses produksi. Di sini, kaum buruh tidak ditempatkan sebagai pelaku ekonomi yang memiliki hak yang sama dibanding pemodal yang bisa leluasa mengeruk untung yang sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih prihatin lagi, buruh di Indonesia bisa dikatakan hanya pencari nafkah dengan mengandalkan fisiknya, mengingat dari tingkat pendidikan yang diserap rendah. Sebab itu, posisi daya tawar kaum buruh di negeri ini sangat lemah, sehingga membuka peluang bagi kapitalis untuk berbuat semena-mena. Bukan hanya menyangkut upah yang rendah, juga hak-hak normatif lainnya, seperti jaminan sosial, asuransi kesehatan, dan jaminan hari tua kaum buruh diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, buruh kita tetap miskin dan tingkat kesejahteraan mereka kian menurun seiring naiknya harga BBM dan melambungnya harga kebutuhan pokok. Ini jelas berpengaruh pada daya beli kaum buruh terhadap kebutuhan pokok, termasuk kemampuan memberikan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan kepada anak serta keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa upah dan kesejahteraan kaum buruh masih jauh panggang dari api, jauh dari kesan pekerjaan dan penghidupan yang layak, sebagaimana diamanatkan dalam dasar negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi yang selama ini dibangun masih menempatkan posisi subordinatif terhadap majikan (pengusaha). Alhasil, adalah lingkaran setan dan tumbuhnya militansi kaum buruh sebagai wujud dari ketidakpercayaan dan kecurigaan kepada pengusaha dan pemerintah. Sebagai ilustrasi, di era 1970-an , Irlandia adalah sebuah negara tanpa kepercayaan diri dan terbelakang di Eropa akibat konflik sosial politik puluhan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kini situasi tersebut telah berubah total. Negara itu kini menjadi negara kaya dan pendapatan per kapitanya menduduki ranking kedua di Eropa. Ratusan perusahaan besar berebut membuka pabrik atau cabang usaha di sana. Kini Irlandia merupakan salah satu surga investasi bagi para investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1987 pemerintah Irlandia memutuskan untuk bekerja sama dengan asosiasi pengusaha dan serikat pekerja Irlandia untuk menyepakati program pengontrolan kenaikan gaji buruh selama tiga tahun yang diberi nama Social Partnership for National Recovery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program itu sukses dan mampu mengontrol inflasi Irlandia. Sukses besar ini segera menjadi stimulus bagi para entitas sosial-politik Irlandia untuk kemudian melakukan beberapa kesepakatan lain yang bertujuan memulihkan kondisi ekonomi negeri itu. Ilustrasi ini semoga memberikan gambaran dan fakta bahwa solusi ketenagakerjaan nasional masa depan dapat diposisikan lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Choirul Mahfud&lt;br /&gt;Dosen Univeristas Muhammadiyah Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Harian Surya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-3261901705516180650?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/3261901705516180650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=3261901705516180650' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/3261901705516180650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/3261901705516180650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2008/01/aksi-buruh-dan-perbaikan-nasib.html' title='Aksi Buruh dan Perbaikan Nasib'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CwzCrP6KI/AAAAAAAAACQ/ayNumlgJ5zA/s72-c/buruh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-1050455029576638635</id><published>2008-01-10T19:51:00.000-08:00</published><updated>2008-03-18T22:51:07.769-07:00</updated><title type='text'>Jihad Lawan Korupsi dan Kemiskinan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CpryrP6GI/AAAAAAAAABw/1eya6nESeiw/s1600-h/change.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CpryrP6GI/AAAAAAAAABw/1eya6nESeiw/s200/change.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179326141278709858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Choirul Mahfud &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korupsi dan kemiskinan adalah dua patologi sosial yang saling berkaitan. Bisa dikatakan, salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini adalah merajalela dan menggilanya praktik korupsi di semua sektor kehidupan. Mengapa? Sebab, kita tentu mafhum, potensi dan kekayaan negeri ini seharusnya tidak membuat rakyat menjadi miskin (mengalami kemiskinan). Faktanya justru sebaliknya. Pengangguran, gelandangan, dan pengemis semakin hari kian banyak dan bertebaran di setiap sudut kota. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua hidup susah, tidak jelas berapa pendapatan sehari-harinya. Berdasar laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2006, jumlah penduduk miskin mencapai 17,75 persen. Setahun kemudian, pada Maret 2007, angka tersebut meningkat menjadi 39,30 juta orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kemiskinan yang begitu besar tersebut mengakibatkan masalah-masalah dasar lain. Terutama, pendidikan dan kesehatan kurang menjadi prioritas pemikiran masyarakat. Bila dibiarkan, tentu dampaknya semakin parah bagi negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, jika asumsi bahwa kemiskinan diakibatkan oleh penyakit korupsi, bisa dibayangkan betapa Indonesia akan bebas dari penyakit kemiskinan ketika benar-benar korupsi bisa diberantas atau setidaknya ditekan hingga ke titik yang bisa ditoleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan kemiskinan dan korupsi yang terus menggurita tersebut, mudah-mudahan tidak banyak orang yang mulai bosan dan lelah berbicara masalah tersebut serta upaya pemberantasannya. Sebab, kemiskinan dan korupsi di negeri ini seperti tidak pernah berkurang, baik dari sisi jumlah maupun kasus yang terjadi dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diberitakan Jawa Pos belum lama ini, dalam survei terbaru lembaga Transparency International (TI), Indonesia masih duduk di peringkat ke-143 di antara 179 negara di dunia dalam upaya pemberantasan korupsi. Dengan peringkat itu, Indonesia menduduki peringkat ke-36 sebagai negara dengan pemberantasan korupsi terlemah di dunia (Jawa Pos, 27/9). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka indeks persepsi korupsi (IPK) Indonesia tersebut jauh dibandingkan Malaysia sebesar 5,1 dan Singapura 9,3. Di kawasan Asia Selatan dan Tenggara, posisi Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Bangladesh, Kamboja, Myanmar, Laos, dan Papua Nugini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa korupsi seolah terus "dipelihara" dan dibiarkan. Di sini, pemerintah juga terkesan masih tebang pilih. Belum tuntasnya kasus korupsi Soeharto dan keluarganya hanyalah salah satu bukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersatu Padu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dampak korupsi yang melanggengkan kemiskinan tersebut, bagi saya, semua pihak perlu bersatu padu merebut peran dalam upaya pemberantasan korupsi di tanah air. Dalam konteks semacam ini, mungkin tepat kita melakukan jihad melawan korupsi dan kemiskinan. Jihad yang selama ini hanya dipahami sebagai mati di medan perang kini bisa dimaknai sebagai upaya sungguh-sungguh dalam memberantas korupsi demi kemajuan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya? Pertama, upaya yang perlu ditempuh adalah melacak akar masalah korupsi dan kemudian merumuskan langkah strategis pemberantasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Aziz mengutip Alatas (1987) melihat, ada dua penyebab utama menjamurnya praktik korupsi di Asia. Yakni, yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang dan jangka pendek. Selain itu, bagi Alatas, lemahnya pemberantasan korupsi disebabkan kurang tegasnya pemimpin; minimnya pengajaran dan pendidikan antikorupsi, agama, serta etika; budaya kolonialisme; kemiskinan; tidak adanya hukum yang tegas; budaya; serta struktur pemerintahan yang mendukung perilaku korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Indonesia, tesis yang dikemukakan sungguh tampak nyata sebagai realitas yang kasat mata. Ia membentang terang benderang di seluruh negeri ini mulai bawah hingga atas. Ia masuk dalam relung-relung birokrasi, pemerintahan, parlemen, parpol, lembaga pendidikan, organisasi militer, hingga "departemen agama". Karena itu, ia menjadi masalah besar yang sangat gawat dan memberi andil besar bagi kerusakan serta kehancuran bangsa ini (Syafi’i Ma’arif, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana strategi pemberantasannya? Menurut saya, karena latar masalah terjadinya korupsi ibarat lingkaran setan, sudah tentu cara mengatasinya harus memutus lingkaran setan korupsi itu. Jihad melawan korupsi dengan cara memutus lingkaran setan tersebut tentu harus dilakukan bersama-sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pemerintah beserta aparatnya wajib mengusut tuntas dengan tidak tebang pilih terhadap pelaku korupsi di negeri ini. Apalagi, sebagai anggota PBB, Indonesia ikut serta menandatangani deklarasi Millennium Development Goals (MDGs) yang salah satunya berkomitmen terhadap penghapusan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, sudah sepatutnya perilaku menyimpang yang sering dilakukan elite politik perlu diganti dengan keteladanan moral yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, semua pihak di berbagai instansi dan institusi publik, agama, pendidikan, politik, media massa (pers), LSM, serta publik diharapkan berperan serta dan bertanggung jawab dalam penciptaan clean and good government.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ala kulli hal, di tengah-tengah jeritan hidup akibat kemiskinan dan korupsi, masih adakah harapan bagi rakyat di negeri ini untuk bisa hidup sejahtera tanpa korupsi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Choirul Mahfud, dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Jawa Pos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-1050455029576638635?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/1050455029576638635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=1050455029576638635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/1050455029576638635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/1050455029576638635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2008/01/jihad-lawan-korupsi-dan-kemiskinan_10.html' title='Jihad Lawan Korupsi dan Kemiskinan'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CpryrP6GI/AAAAAAAAABw/1eya6nESeiw/s72-c/change.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-2367632377052768132</id><published>2007-09-21T15:51:00.001-07:00</published><updated>2008-01-10T19:54:38.878-08:00</updated><title type='text'>Mengikis Praktik Diskriminasi Etnis Tionghoa</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h3&gt;                          &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Y6m8akdkCo4/Rr4TmWYqguI/AAAAAAAAACs/_jJSeJKNmKQ/s1600-h/JKT.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Y6m8akdkCo4/Rr4TmWYqguI/AAAAAAAAACs/_jJSeJKNmKQ/s200/JKT.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5097533377794966242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam berpolitik, mengapa warga etnis Tionghoa hingga kini tidak (mau) banyak terjun ke dunia politik bukan karena warga etnis Tionghoa tidak (mau) berpolitik, namun akibat sistem yang diskriminatif yang sesungguhnya membuat etnis ini tidak (bisa) terjun 'bebas berpolitik' &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Rancangan Undang-Undang Anti Diskriminasi masih dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Keberadaan Undang-Undang ini memang sangat dibutuhkan di tengah maraknya praktek diskriminasi yang terus saja terjadi dari dulu hingga sekarang. Di antara kelompok yang selalu menjadi korban praktik diskrimasi adalah etnis Tionghoa yang sudah merasakan diskriminasi sejak zaman pra-kemerdekaan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, bahasan mengenai etnis Tionghoa bukan masalah baru, tapi hal ini masih penting didiskusikan kembali sebab praktik diskriminasi etnis Tionghoa masih terus terjadi. Lebih dari itu, praktik diskriminasi juga telah lama dijalankan, utamanya di masa Orde Baru (Orba). Di masa Orba itu, pintu kebebasan dan saluran komunikasi publik khususnya terhadap etnis Tionghoa sangat tertutup rapat. Tak heran, kalau peran warga etnis Tionghoa dalam berbagai bidang, khususnya politik, sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring tumbangnya Orba, suasana hidup berbangsa mulai berubah ditandai dengan pintu kebebasan berdemokrasi dan berpendapat mulai dibuka. Namun demikian, pola dan praktik diskriminasi di era reformasi seperti saat ini bukan berarti sudah tidak ada masalah. Justru masih menyisakan masalah. Hanya saja, bentuk dan ragam polanya telah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, penulis melakukan wawancara khusus dengan Aliptojo Wongsodihardjo, Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jatim. Dalam wawancara itu, Aliptojo mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir, di Surabaya, diskriminasi etnis Tionghoa masih terus saja terjadi. Mulai dari diskriminasi oleh pemerintah kota dengan adanya pemberlakuan kebijakan 'tidak adil' yaitu Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dalam urusan kependudukan dan publik meski peraturan perundang-undangan sudah mengatur tapi dalam realitasnya masih saja dilanggar. Meski tak kelihatan secara kasat mata praktik diskriminasi dalam berpolitik juga terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, ia berharap praktik diskriminasi bisa dikikis sedikit demi sedikit hingga akhirnya tak ada perbedaan dan praktik diskriminasi (Aliptojo, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berpolitik, mengapa warga etnis Tionghoa hingga kini tidak (mau) banyak terjun ke dunia politik bukan karena warga etnis Tionghoa tidak (mau) berpolitik, namun akibat sistem yang diskriminatif yang sesungguhnya membuat etnis ini tidak (bisa) terjun 'bebas berpolitik'. Tidak saja dalam konteks politik nasional tetapi juga lokal, seperti pilkada/ pilgub. Dalam pilkada di Surabaya lalu, misalnya, sangat tampak warga etnis Tionghoa masih 'takut' dalam berpolitik. Karena, perasaan was-was masih terus menghantui warga etnis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara historis, citra negatif etnis Tionghoa memiliki akar yang sangat panjang. Menurut pakar dan peneliti sejarah LIPI, Asvi Warman Adam, mengatakan bahwa secara historis, sejak masa sebelum kedatangan bangsa Eropa, terutama pada masa kolonial. Masalah China (baca: Tiongkok) (Chineesche Kwestie) baru menghangat di koloni ini sejak 1900-an ketika timbul gerakan nasionalisme kaum peranakan China di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal berbeda tapi agak serupa diungkap Andjarwati Noordjanah (2004) dalam bukunya Komunitas Tionghoa di Surabaya. Andjarwati menengarai praktik diskriminasi terhadap etnis Tionghoa hingga kini masih menggejala baik secara struktural maupun kultural. Secara kultural, dalam benak penduduk “pribumi” nampaknya masih tersimpan stereotip yang memang “sengaja” dibuat sejak berabad-abad silam, bahwa warga etnis Tionghoa adalah warga “kelas dua”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan itulah yang bagi warga etnis Tionghoa merupakan satu contoh tindakan diskriminatif yang barangkali tidak disadari oleh warga pribumi. Sebetulnya, penggunaan istilah pribumi dan nonpribumi atau “kelas kedua” di sini tidak tepat, namun karena dalam realitasnya masih saja dipakai, sengaja atau tidak, akibatnya terjadilah stereotiping. Karenanya, barangkali tepat bila istilah-istilah tersebut tidak seharusnya dipakai atau disebut lagi dalam interaksi sosial. Pasalnya, ungkapan-ungkapan semacam itu terasa bisa menyakiti pihak-pihak tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Andjarwati, Aliptojo melihat akar masalah merebaknya praktik diskriminasi di negeri ini, termasuk di Jawa Timur, sesungguhnya bukan lebih disebabkan oleh masyarakat (kultural), tetapi disebabkan oleh faktor struktural di mana negara melalui produk hukumnya yang dianggap masih berbau “kolonial” melanggengkan praktik diskriminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Timur, meski berbeda suku, budaya, agama, etnis dan bahasa, faktanya justru tidak terlalu mempermasalahkan keragaman tersebut. Masalahnya justru ada pada hukum yang secara langsung maupun tidak mendorong orang untuk menafsirkan pada hal-hal yang mengarah pada pola dan praktik diskriminatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal saja, secara substansial beberapa di antaranya adalah praktik dan pola diskriminatif dalam undang-undang yang mengatur masalah dispenduk (Dinas Kependudukan). Nah, di sini warga etnis Tionghoa masih saja dipersulit dalam mengurus urusan asal usul dan status kewarganegaraan. Akibatnya, tidak sedikit warga etnis Tionghoa yang belum memiliki status kewarganegaraannya hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masalahnya lebih pada aspek hukum, maka dalam konteks semacam ini langkah pertama yang harus ditempuh adalah hukum yang berbau diskriminatif itu perlu segera diubah dengan peraturan atau hukum baru yang lebih terbuka dan anti diskriminatif terhadap etnis apapun dan siapapun, khususnya etnis Tionghoa. Anggota dewan tentu saja harus memperhatikan kasus dan masalah ini dalam membahas Rancangan Undang-Undang Anti Diskriminasi yang sedang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Lain&lt;br /&gt;Bagi masyarakat secara umum, barangkali bisa ikut serta dalam menghapus praktik diskriminasi di tanah air dengan tidak berbuat sesuatu yang mengarah pada praktik diskriminatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain langkah tersebut di atas, jalan lain yang bisa ditempuh adalah melalui penyelenggaraan model pendidikan anti-diskriminatif. Tujuan pendidikan ini adalah memberikan pemahaman bahwa praktik diskriminasi itu tidak baik dan perlu dihindari dengan membiasakan hidup tidak saling bermusuhan dan mendiskriminasi hanya disebabkan karena berbeda suku, etnis, agama dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks wawasan nasionalisme, model pendidikan ini juga menanamkan spirit nilai-nilai kebangsaan yang akhir-akhir ini semakin mengikis di tengah praktik cinta tanah air dan bangsa yang mulai hilang dan tampak sangat ritual formalistik. Karenanya, cinta tanah air dan bangsa perlu dipahami dan dipraktikkan mulai sejak dini, terutama usia-usia kanak-kanak dan masyarakat juga bisa membiasakan diri dengan kegiatan yang mengarah pada pola hidup demokratis, multikulturalis, dan nasionalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, pendidikan dan hukum adalah dua entitas penting yang mampu memperkuat terciptanya kesadaran masyarakat. Kesadaran ini menjadi penting sebab kesadaran menuntun pikiran. Pikiran akan menuntun pada tindakan. Jadi, tindakan diskriminasi sesungguhnya akar masalahnya lebih pada basis kesadaran ketimbang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum tidak lain lahir dimaksudkan karena belum sadarnya masyarakat akan sesuatu hal. Karenanya, dibuatlah aturan-aturan. Demikian pula pendidikan, esensinya barangkali juga karena masyarkatnya belum begitu terdidik dalam pengertian luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, hukum dan pendidikan selain mampu berperan sebagai media penyadaran juga sebagai juru selamat bagi seluruh umat manusia yang menjadi korban diskriminasi ras, etnis, agama, bahasa, suku dan status sosial. Hal itu saya kira menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah yang belum digarap secara baik. Wallahu a'lam.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Choirul Mahfud, Penulis adalah dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-2367632377052768132?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/2367632377052768132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=2367632377052768132' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/2367632377052768132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/2367632377052768132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2007/09/mengikis-praktik-diskriminasi-etnis.html' title='Mengikis Praktik Diskriminasi Etnis Tionghoa'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Y6m8akdkCo4/Rr4TmWYqguI/AAAAAAAAACs/_jJSeJKNmKQ/s72-c/JKT.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-3837924560096071497</id><published>2007-07-20T05:42:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T23:01:52.805-07:00</updated><title type='text'>Menghapus Diskriminasi Etnis (Tionghoa) di Surabaya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CsNirP6II/AAAAAAAAACA/WYcECLMYzaM/s1600-h/demi+waktu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CsNirP6II/AAAAAAAAACA/WYcECLMYzaM/s200/demi+waktu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179328920122550402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Choirul Mahfud*&lt;br /&gt;*Penulis adalah direktur eksekutif Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Surabaya, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andjarwati Noordjanah (2004) dalam bukunya “Komunitas Tionghoa di Surabaya” menengarai bahwa diskriminasi terhadap etnis Tionghoa hingga kini masih menggejala dan dalam benak penduduk “pribumi” masih tersimpan stereotip yang memang “sengaja” dibuat sejak berabad-abad silam, perlu didiskusikan lebih lanjut. Sebab, sejarah mencatat, peristiwa-peristiwa politis dan diskriminatif yang terjadi di negeri ini, mulai di masa sebelum kemerdekaan hingga reformasi 1998 selalu menyeret kelompok komunitas ini sebagai korban. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan salah satu aktivis Tionghoa, Tom Saptaatmaja, tentang “antara kontribusi dan diskriminasi” (Opini Metro, 24/01), adalah menjadi satu bukti betapa persoalan diskriminasi terhadap etnis ini masih melilit dan menjadi problem warga etnis Tionghoa. Pertanyaannya, bagaimanakah kemauan pemerintah, dan semua elemen masyarakat menghapus diskriminasi? Pertanyaan ini patut diajukan mengingat fenomena merebaknya diskriminasi melalui berbagai media sangat dimungkinkan terus terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan kita, beberapa tahun terakhir, di Surabaya, diskriminasi etnis Tionghoa masih terus terjadi (Jawa Pos, 24/6/2004). Mulai dari diskriminasi oleh pemerintah kota dengan adanya pemberlakuan kebijakan 'tidak adil' yaitu Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dalam urusan publik, hingga diskriminasi dalam berpolitik (mungkin juga untuk daftar CPNS?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berpolitik, misalnya, hingga kini alasan warga etnis Tionghoa tidak banyak terjun ke dunia politik bukan karena warga etnis Tionghoa tidak mau berpolitik, namun akibat sistem yang diskriminatif lah yang sesungguhnya membuat etnis ini tidak bisa terjun ‘bebas’. Tidak saja dalam konteks politik nasional tetapi juga lokal, seperti Pilkada. Dalam pilkada di Surabaya kemarin, misalnya, sangat tampak warga etnis Tionghoa masih 'takut’ dalam berpolitik. Karena, perasaan was-was masih terus menghantui warga etnis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditilik secara historis, citra negatif dan ‘pahit’ terhadap etnis Tionghoa memiliki akar yang panjang. Menurut Asvi Warman Adam, peneliti sejarah LIPI, secara historis, sejak masa sebelum kedatangan bangsa Eropa, terutama pada masa kolonial. Masalah China (Chineesche Kwestie) baru menghangat di koloni ini sejak 1900-an ketika timbul gerakan nasionalisme kaum peranakan China di Indonesia. Pada 17 Maret 1900, di Batavia dibentuk Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) yang kemudian mendirikan sekolah-sekolah (berjumlah 54 buah pada 1908 dan mencapai 450 sekolah pada 1934).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kolonial Belanda pada waktu itu makin khawatir. Sebab, pada bulan Januari 1912, Sun Yat Sen memproklamasikan Republik Rakyat Tiongkok. Yakni, organisasi Tionghoa yang awalnya berkecimpung dalam bidang sosial-budaya mulai mengarah ke politik. Tujuannya, menghapuskan perlakuan diskriminatif terhadap orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda dalam bidang pendidikan, hukum/peradilan, status sipil, beban pajak, hambatan bergerak, serta bertempat tinggal (Asvi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka pelaksanaan politik etis, pemerintah kolonial berusaha memajukan pendidikan. Namun, warga Tionghoa tidak diikutkan dalam program tersebut. Padahal, orang Tionghoa membayar pajak ganda (pajak penghasilan dan pajak kekayaan). Pajak penghasilan diwajibkan kepada warga pribumi yang bukan petani. Pajak kekayaan (rumah, kuda, kereta, kendaraan bermotor, dan peralatan rumah tangga) dikenakan hanya bagi orang Eropa dan Timur Asing, termasuk orang etnis Tionghoa. Hambatan untuk bergerak dikenakan bagi warga Tionghoa dengan adanya passenstelsel. Sejak pembantaian Tionghoa di Batavia pada 1740, orang Tionghoa tidak dibolehkan bermukim di sembarang tempat. Aturan wijkenstelsel itu menciptakan permukiman etnis Tionghoa di sejumlah kota besar di Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target pemerintah kolonial untuk mencegah interaksi pribumi dengan etnis Tionghoa melalui aturan “passenstelsel” dan “wijkenstelsel” itu ternyata mempunyai hikmah. Yakni, menciptakan konsentrasi kegiatan ekonomi orang Tionghoa di perkotaan. Ketika perekonomian dunia beralih ke sektor industri, orang-orang Tionghoa tersebut paling siap dengan spesialisasi usaha makanan-minuman, jamu, peralatan rumah tangga, bahan bangunan, pemintalan, batik, kretek, serta transportasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, sejak 1981, warga Tionghoa didiskriminasi dalam mencari pekerjaan. Sebagaimana termaktub dalam Instruksi Mendagri Amir Machmud No 32/1981 tentang pembinaan dan pengawasan eks tapol/napol G 30 S/PKI melarang para eks tapol/napol itu bekerja sebagai ABRI atau PNS. Warga Tionghoa juga dilarang menjadi anggota parpol, pers, dalang, lurah, lembaga bantuan hukum, dan pendeta. Selain itu, para keluarga (anak-keponakan, bahkan cucu) yang bekerja di pemerintahan dikenai litsus (penelitian khusus) dan harus bersih lingkungan. Parahnya lagi, perlakuan diskriminasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi juga perusahaan swasta dan sebagian masyarakat ‘pribumi’. Bagaimana menjembatani kesenjangan persepsi tersebut atau dengan kata lain merekonstruksi kembali hal yang sudah terbentuk dalam memori kolektif bangsa Indonesia sejak dulu? Agar tidak ada dusta di antara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Kenal maka Tak Sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kalangan meyakini bahwa bila kita kenal maka kita akan sayang. Pepatah di atas mungkin tepat dilontarkan. Sebab, banyak yang tidak mengenal kebudayaan Tionghoa secara cukup. Ketidaktahuan tersebut mendukung kita dalam keadaan tertentu untuk “menghancurkan” aset etnis Tionghoa. Orang tentu akan berpikir dua kali untuk menyerang sesuatu yang dikenalnya secara baik, apalagi dikaguminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tulisan ini menjadi penting sebagai informasi untuk mengenal sepak terjang dan kontribusi sebagian warga etnis Tionghoa di Surabaya. Menurut pengamatan penulis, bahwa beberapa tokoh Tionghoa Surabaya (Jatim) yang sangat berperan saat ini adalah Alim Markus (Maspion) dan Melinda Teja dalam sektor ekonomi dan bisnis, Ongko Digdoyo (BEC Surabaya), pendeta Alex T. (Gereja Bethany), Anita Lie (UK Petra) dan Takim Andriono (pendidikan), Sidharta Adhimulya (Tao), Budi Santosa (Rutan dan Radio SCFM), HMY Bambang Suyanto (PITI dan Masjid Cheng Hoo) dan Setiadji Yudho (tempat rekreasi di Kenjeran). Selain itu, dalam sejarah pers kita, tercatat nama The Chung Sen. Beliau adalah tokoh pendiri "Java Post" yang kemudian saat berubah nama menjadi Jawa Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, sudah waktunya dalam dunia sekolah kita perlu diajarkan pendidikan Multikultural dan Multietnis. Hal ini menjadi penting dengan maksud agar siswa memiliki kesadaran toleransi, dan sikap saling menghormati antara sesama meski ada perbedaan. Bagaimana perbedaan tidak menjadikan alasan dan penghalang bagi kita untuk bersatu dan bekerja sama dalam mewujudkan bangsa yang berperadaban, damai dan sejahtera. Semoga.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-3837924560096071497?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/3837924560096071497/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=3837924560096071497' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/3837924560096071497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/3837924560096071497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2007/07/menghapus-diskriminasi-etnis-tionghoa.html' title='Menghapus Diskriminasi Etnis (Tionghoa) di Surabaya'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_TO6Nutuaq_8/R-CsNirP6II/AAAAAAAAACA/WYcECLMYzaM/s72-c/demi+waktu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-2892731968974303458</id><published>2007-07-20T05:38:00.000-07:00</published><updated>2008-01-10T20:08:53.986-08:00</updated><title type='text'>SBKRI dan Diskriminasi Etnis di Surabaya</title><content type='html'>Oleh: Choirul Mahfud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, penolakan (kembali) terhadap kebijakan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dan segala bentuk diskriminasi etnis di kota Surabaya kembali menguat. Pasalnya, raperda pemerintah kota (pemkot) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) kota Surabaya ditengarai akan memberlakukan kembali SBKRI. Bahkan realita di lapangan masih banyak oknum birokrat, secara sengaja atau tidak, telah mempraktekkannya, utamanya kepada warga Tionghoa. Buktinya, sejumlah warga Tionghoa masih mengeluh dan dipersulit Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Surabaya karena harus menyertakan SBKRI saat akan mengurus kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga, akta kelahiran, dan surat nikah (Jawa Pos, 7/4/2006). &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kini Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Surabaya mengharuskan warga keturunan Tionghoa mencantumkan nama marga atau famili dalam dokumen resmi. Akibatnya, nama dalam KTP, kartu kelurga, rekening bank, dan dokumen lain bisa berbeda-beda. Padahal, dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 56 Tahun 1996 tentang Bukti Kewarganegaraan RI Pasal 1 disebutkan, bahwa “Istri dan anak yang berusia di bawah delapan belas tahun dari seseorang yang memperoleh kewarganegaraan Republik Indonesia melalui proses pewarganegaraan, langsung ikut serta menjadi warga negara RI mengikuti kewarganegaraan suami/ayahnya tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pasal 5 juga ditegaskan, bahwa dengan berlakunya keputusan presiden ini, maka segala peraturan perundang-undangan untuk kepentingan tertentu mempersyaratkan SBKRI dinyatakan tidak diberlakukan lagi. Dalam era BJ Habibie pun, telah dikeluarkan pula Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 1999 yang intinya menegaskan kembali eksistensi Keppres No 56/1996. Dalam bagian pertama butir a (2) disebutkan, “Untuk kepentingan tertentu yang memerlukan bukti kewarganegaraan RI, istri dan/ atau anak cukup mempergunakan keputusan presiden mengenai pemberian kewarganegaraan suami/ayah atau ibu juga beserta berita acara pengambilan sumpah atau akta kelahiran yang bersangkutan; (3) Bagi warga negara RI yang telah memiliki KTP atau kartu keluarga atau akta kelahiran, pemenuhan kebutuhan persyaratan untuk kepentingan tersebut cukup menggunakan KTP, atau kartu keluarga, atau akta kelahiran tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah kenapa keputusan dari pusat tersebut tidak dijalankan oleh aparat birokrasi di daerah? Padahal, logika aturan di daerah semestinya mengacu pada keputusan di atasnya, dalam hal ini Kepres dan Inpres. Menurut Kepala Subdinas Tata Usaha Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surabaya Imam Sugondo dalam diskusi “Masih perlukah SBKRI?” Beberapa hari lalu di Kompas, dijelaskan beberapa alasan, diantaranya ia mengatakan bahwa Keputusan Presiden (Keppres) No 56/1996 belum bisa diterapkan, karena belum ada surat petunjuk pelaksanaan (juklak) dari Wali Kota Surabaya. Oleh karena itu, aturan dalam Staatsblad 1912 yang merupakan aturan Kolonial Belanda masih terus diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ironis memang, Surabaya yang dikenal sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta dalam persoalan kebijakan publik dan pelayanan masyarakat masih kurang memuaskan dan bahkan diskriminatif. Tentu ini menjadi bahan koreksi bagi pemkot khususnya dan umumnya anggota masyarakat di kota Pahlawan ini untuk lebih kritis dalam melihat segala bentuk tata aturan yang penuh manipulasi dan diskriminasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan diskriminastif dengan diwajibkannya warga Tionghoa untuk memiliki SBKRI pada awalnya memang latar belakangnya lebih bersifat politik rasialis dan keamanan. Dan sebenarnya kalau dilihat dari landasan politik hukum kewarganegaraan, ketentuan tentang bukti kewarganegaraan wajar saja diberlakukan bagi orang asing yang mau menjadi warga negara dalam suatu negara. Namun amat disayangkan, masalah itu kini sudah beralih menjadi ladang untuk melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan pendiskriminasian etnis tertentu atas nama SBKRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tomy Su (2004), SBKRI sebenarnya sama saja dengan hantu. Meski berulangkali para penguasa dan pejabat negeri ini menegaskan "SKBRI sudah dihapus", tapi seperti halnya 'hantu', SKBRI memang tidak pernah "mati-mati". Bahkan kalau perlu dilestarikan dan dilembagakan agar tetap terus hidup (baca diberlakukan). Oleh karena itu, bila pemerintah ada kemauan kuat untuk menghapus SBKRI, maka kebijakan tersebut tidak cukup berhenti pada dataran kepres/inpres atau ucapan (seperti ucapan wawali Arief Affandi 7/4 lalu) saja, tetapi juga perlu ditindaklanjuti pada dataran kebijakan di tingkat daerah/kota, kecamatan, hingga kelurahan/desa agar supaya berjalan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, adakah kemauan pemerintah, dan semua elemen masyarakat untuk menggalang gerakan penghapusan (kembali) SBKRI dan segala bentuk diskriminasi hingga akar rumput? Pertanyaan ini patut diajukan mengingat fenomena merebaknya diskriminasi melalui berbagai media sangat dimungkinkan terus terjadi. Persoalan diskriminasi terhadap warga Tionghoa sebetulnya bukan persoalan baru. Masih segar dalam ingatan kita, beberapa tahun terakhir, di Surabaya, diskriminasi etnis Tionghoa masih terus terjadi (Jawa Pos, 24/6/2004). Mulai dari diskriminasi oleh pemerintah kota dengan adanya pemberlakuan kebijakan 'tidak adil' yaitu Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) dalam urusan publik, hingga diskriminasi dalam berpolitik (mungkin juga untuk daftar CPNS beberapa waktu lalu?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam aktivitas politik, hingga kini, alasan kenapa warga etnis Tionghoa tidak banyak terjun ke dunia politik bukan karena warga etnis Tionghoa tidak mau berpolitik, namun akibat sistem yang diskriminatif lah yang sesungguhnya membuat etnis ini tidak bisa terjun ‘bebas’. Tidak saja dalam konteks politik nasional tetapi juga lokal, seperti Pilkada. Dalam pilkada di Surabaya lalu, misalnya, sangat tampak warga etnis Tionghoa masih 'takut’ dalam berpolitik. Karena, perasaan was-was masih terus menghantui warga etnis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bagaimana solusi konkrit untuk menjembatani kesenjangan persepsi tersebut atau dengan lain kata merekonstruksi kembali memori kolektif bangsa Indonesia sejak dulu? Biar tidak ada dengki dan dusta di antara kita. Tentu saja, pemerintah dan masyarakat harus merubah pola pikir dalam melihat warga Tionghoa yang mungkin cenderung negatif. Mengedepankan sikap toleran, hormat menghormati, menjauhkan prasangka buruk (prejudice) dan menghargai perbedaan. Perbedaan tidak dipandang sebagai penghalang untuk berinteraksi sosial, politik, budaya dan bergotong royong demi mewujudkan cita-cita kota, bangsa dan negara bhineka tunggal ika perlu dipraktekkan. Semoga.*** &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-2892731968974303458?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/2892731968974303458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=2892731968974303458' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/2892731968974303458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/2892731968974303458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2007/07/sbkri-dan-diskriminasi-etnis-di.html' title='SBKRI dan Diskriminasi Etnis di Surabaya'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-277591580514037611</id><published>2007-07-20T05:36:00.000-07:00</published><updated>2007-07-20T08:56:14.537-07:00</updated><title type='text'>Mengkaji Ulang Islam Multikultural</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Choirul Mahfud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pascatragedi 11 September 2001, diskursus Islam terus menjadi topik aktual dan menarik perhatian banyak kalangan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di tanah air, misalnya, pertarungan wacana dan ideologi Islam kembali mencuat ke permukaan yang diwakili dua kutub yang saling berseberangan: antara kubu fundamental di satu pihak dan kubu liberal di lain pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perdebatan wacana ini, tentu saja beda pendapat dan konflik sosial pun acapkali tidak bisa dihindari. Bahkan, klaim kebenaran (truth claim), tuduh-menuduh, penghakiman dan pengkafiran seolah menjadi santapan sehari-hari dalam kehidupan beragama di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Potret di atas merupakan realitas empirik yang sering dijumpai beberapa tahun lalu, meski akhir-akhir ini wacana tersebut agak redup akibat kalah isu dengan wacana politik, infotainment selebriti dan peristiwa bencana alam di berbagai pelosok tanah air. Namun begitu, bukan berarti perdebatan Islam di nusantara menjadi stagnan, justru dengan ramainya wacana tersebut menjadikan perdebatan agama terus menguat dan kian ramai. Setidaknya hal itu ditandai dengan munculnya banyak kelompok kajian, aliran keagamaan, dan golongan-golongan dalam semua agama, khususnya di Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Multikultural          &lt;br /&gt;Dalam konteks tersebut, memperbincangkan diskursus Islam multikultural di Indonesia menemukan momentumnya. Sebab, selama ini Islam secara realitas seringkali ditafsirkan tunggal bukan jamak atau multikultural. Padahal, di Nusantara realitas Islam multikultural sangat kental, baik secara sosio-historis maupun glokal (global-lokal). Secara lokal, misalnya, Islam di nusantara dibagi oleh Clifford Geertz dalam trikotomi: santri, abangan dan priyayi; atau dalam  perspektif dikotomi Deliar Noer, yaitu Islam tradisional dan modern; dan masih banyak lagi pandangan lain seperti liberal, fundamental, moderat, radikal dan  sebagainya. Secara sosio-historis, hadirnya Islam di Indonesia juga tidak bisa lepas dari konteks multikultural sebagaimana yang bisa dibaca dalam sejarah masuknya Islam ke Nusantara yang dibawa oleh Walisongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, realitas multikultural tersebut kadangkala menantang kita untuk bisa bersikap lebih arif dan bijak. Di satu sisi, misalnya, mungkin kita merasa bangga dengan munculnya banyak aliran, kelompok dan golongan dalam Islam, sehingga dengan leluasa bisa memilih dan bergabung dengan aliran yang banyak tersebut. Tetapi, pada sisi lain sebagian kita pasti ada yang bingung dan resah akibat munculnya  ragam kelompok dalam Islam di Indonesia belakangan ini, seperti Ahmadiyah, Lia Eden, Yusman Roy, JIL, JIMM, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, perbincangan Islam multikultural bukan wacana baru karena sebelumnya sudah banyak pakar Muslim telah melakukan kajian ini. Dalam buku Democratic Pluralism in Islam, misalnya, Abdul Aziz Sachedina pernah merekam dan mengungkap wajah pluralistik Islam baik secara normatif maupun historis. Bagi dia, secara normatif, sumber ajaran Islam yakni Al-Qur’an dan Hadits telah menjelaskan perlunya kenal-mengenal (ta`aruf) antarsuku bangsa dan agama (Q.S. al-Hujurat:13). Bahkan, Hassan Hanafi pernah melontarkan kritik yang dituangkan dalam buku al-Yasar al-Islami (Kiri Islam), tentang perlunya rekonstruksi pemikiran Islam dan pemihakan kaum tertindas akibat perbedaan status, gender dan kultur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, menjadikan Islam multikultural sebagai topik atau wacana masih menarik dan perlu disebar-luaskan. Hal ini setidaknya karena tiga alasan. Pertama, situasi dan kondisi konflik. Di tengah-tengah keadaan yang sering konflik,  Islam multikultural menghendaki terwujudnya masyarakat Islam yang cinta damai, harmonis dan toleran. Karenanya, cita-cita untuk menciptakan dan mendorong terwujudnya situasi dan kondisi yang damai, tertib dan harmonis menjadi agenda penting bagi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Di tanah air, kasus konflik sosial di Poso, Ambon, Papua dan daerah lain merupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, realitas yang bhinneka. Ke-bhinneka-an agama, etnis, suku, dan bahasa menjadi keharusan untuk disikapi oleh semua pihak, terutama umat Islam di Indonesia. Sebab, tanggung jawab sosial bukan hanya ada pada pemerintah tapi juga umat beragama. Dengan lain kata, damai-konfliknya masyarakat juga bergantung pada kontribusi penciptaan suasana damai oleh umat beragama, termasuk kaum Muslimin di negeri ini. Robert N. Bellah, sosiolog agama dari Amerika serikat, mengatakan bahwa melalui Nabi Muhammad SAW di Jazirah Arab, Islam telah menjadi peradaban multikultural yang amat besar, dahsyat dan mengagumkan hingga melampaui kebesaran negeri lahirnya Islam sendiri, yaitu Jazirah Arab. Pada konteks ini, toleransi dan sikap saling menghargai karena perbedaan agama, sebagaimana diungkap Wilfred Cantwell Smith, perlu terus dijaga dan dibudayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;Ketiga, norma agama. Sebagai sebuah ajaran luhur tentu agama menjadi dasar yang kuat bagi kaum agamawan pada umumnya untuk membuat kondisi agar tidak carut-marut. Dalam hal ini, tafsir agama diharapkan bukan semata-mata mendasarkan pada teks, tetapi juga konteks agar maksud teks bisa ditangkap sesuai makna zaman. Perdebatan antara aliran ta`aqqully yang mendasarkan pada kekuatan rasio/akal dan aliran ta`abbudy yang menyandarkan pada aspek teks telah diwakili oleh dua aliran besar, yaitu Mu`tazilah dan Asy`ariyah, bisa menjadi pelajaran masa lalu yang amat menarik.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Prospek ke Depan&lt;br /&gt;Di tengah situasi konflik akhir-akhir ini, masa depan Islam multikultural tampaknya bisa menjadi wacana alternatif atas problematika Islam kontemporer. Lebih-lebih di Indonesia yang masyarakatnya majemuk, plural dan beragam dalam berbagai hal, wacana Islam multikultural bisa dikatakan strategis untuk ditawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Keberadaan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, NU dan organisasi keagamaan lainnya di era multikultural seperti saat ini sudah seharusnya memposisikan diri sebagai koordinator bukan instruktur. Fungsi koordinatif ketimbang instruktif bagi lembaga keagamaan di negeri ini menjadi penting karena dominasi salah satu pihak atas organisasi keagamaan akan menimbulkan konflik dan awal munculnya diskriminasi social, dan secara langsung atau tidak langsung telah menghilangkan eksistensi salah satu pihak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan atas pihak lain dengan jalan membuka dialog bersama guna membuat dan memutuskan kebijakan (decision making) menjadi penting. Tentu saja hal itu dilakukan dalam persoalan-persoalan yang relevan dan berkaitan erat dengan masalah dan kepentingan hidup bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pihak negara sudah seharusnya tidak banyak ikut terlibat dalam urusan-urusan agama dan keluarga hingga yang sangat pribadi, seperti  soal poligami. Isu poligami yang ramai kembali akibat berita A’a Gym menikah dengan Teh Rini membuat negara ikut-ikutan  campur tangan. Menurut hemat penulis, biarlah persoalan agama lebih banyak diserahkan kepada kaum agamawan, sedangkan pemerintah sebaiknya hanya memberi pelayanan sebaik-baiknya dalam urusan-urusan publik, bukan malah ikut campur tangan dalam masalah agama hingga persoalan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara dan agama sudah seharusnya tetap menjalin komunikasi dan sinergi dalam mengelola realitas multikultural di negeri ini. Komunikasi merupakan jalan dialog sebagai upaya saling mengenal dan memahami maksud-tujuan eksistensi dan relasi agama-negara. Hal itu juga merupakan sinergi sebagai gerakan bersama dalam mewujudkan cita-cita masyarakat berkeadilan dan berkesetaraan, sesuai visi UUD 1945 dan Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akhirnya, gagasan Islam multikultural menghendaki kesediaan menerima perbedaan lain (others), baik perbedaan kelompok, aliran, etnis, suku, budaya dan agama. Lebih dari sekadar merayakan perbedaan (more than celebrate multiculturalism), Islam multikultural juga mendorong sinergi untuk menciptakan tatanan masyarakat yang adil, damai, toleran, harmonis dan sejahtera. Pertanyaan akhir sebagai penutup tulisan ini adalah, beranikah kita ber-Islam secara multikultural?[]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surabaya; yang telah menulis buku Pendidikan Multikultural (2006).&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;Suara Muhammadiyah edisi 1-15 Maret 2007.&lt;/div&gt; &lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://www.suara-muhammadiyah.or.id/sm/Majalah/SM04-1-15-Maret-07-Ganjil/Mengkaji-Ulang-Islam-Multikultural.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-277591580514037611?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/277591580514037611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=277591580514037611' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/277591580514037611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/277591580514037611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2007/07/mengkaji-ulang-islam-multikultural.html' title='Mengkaji Ulang Islam Multikultural'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-8772602322529575038</id><published>2007-07-20T05:35:00.001-07:00</published><updated>2007-07-20T05:35:38.194-07:00</updated><title type='text'>Reaktualisasi Toleransi Agama</title><content type='html'>Oleh Choirul Mahfud&lt;br /&gt;Penulis adalah direktur eksekutif Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Surabaya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, agama adalah sebuah nama yang terkesan membuat gentar, menakutkan dan mencemaskan. Agama di tangan para pemeluknya belakangan ini sering tampil dengan wajah kekerasan dan seolah-olah telah kehilangan wajah ramahnya. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak muncul konflik, intoleransi dan kekerasan atas nama agama dan berkeyakinan di berbagai kawasan Indonesia . Teror 11 September di Amerika yang menewaskan ribuan nyawa manusia yang tak berdosa, Bom Bali, kasus Poso, Ambon, Papua, Aceh, bom Marriott, bom Natal dan pelarangan pendirian gereja di Malang, dan Kasus Yusman Roy di Pasuruan hanyalah salah satu contoh saja.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks semacam ini menjadi sangat beralasan apabila ada pihak yang menyebut agama adalah sumber masalah dari seluruh kekacauan dunia. Pandangan dunia keagamaan yang cenderung anakronistik memang sangat berpotensi untuk memecah belah dan saling klaim kebenaran dipastikan akan berujung konflik. Memang, menyatakan agama semata-mata sebagai sumber masalah jelas tidak arif dan a-historis, karena faktanya selama berabad-abad agama telah menopang dan memberi sumbangsih bagi jutaan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradoks agama pun tak bisa dielakkan. Di satu sisi, agama adalah pembawa damai, tetapi di sisi lain, agama telah ikut mendorong konflik, bahkan kadangkala tindakan kekerasan. AN Wilson dalam buku Against Religion, Why We Should Try to Live Without It (1990), melukiskan paradoks dan dilema dalam konflik antar-agama tersebut, seperti seseorang ada dalam sebuah agama, konflik dengan agama lain akan dianggap sebagai ”sebuah tindakan kebenaran melawan kezaliman”. Sedangkan jika orang itu ada di agama lain yang dilawan itu, maka ia akan menganggap sebaliknya, agamanya sendiri sebagai yang benar, melawan agama lawannya itu sebagai yang salah, yang zalim. Tetapi, jika seseorang berada di luar dua agama yang sedang konflik itu, ia akan melihat keduanya ada dalam kesalahan, dan ia akan menganggap bahwa konflik yang sama-sama menggunakan klaim kebenaran itu sebagai kenaifan karena jelas keduanya salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah awal mula yang Charles Kimball maksudkan sebagai ”when religions become evil” (Kala Agama menjadi Bencana). Yakni, munculnya sejuta pertanyaan, ada apa dengan agama? Adakah agama memang mengandung unsur-unsur yang melegitimasi kekerasan, bahkan teror? Apakah agama berperan sebagai sumber problem atau sumber solusi? Bagaimana mengenali terjadinya modus kekerasan di tubuh agama? Apa yang harus kita perbut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan peta analisisnya, Kimball mengimbau kita agar kembali ke agama autentik, yakni, modus keberagamaan yang tidak sekedar bersetia dengan doktrin skriptural (teks) yang statis, tetapi sebuah iman yang hidup dan menghidupi kemanusiaan universal dan memihak keadilan social (konteks).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Max Weber dalam magnum opusnya "the Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism" menegaskan pentingnya mendudukkan agama sebagai spirit etika dan perubahan sosial. Fungsi sosial agama untuk perubahan sosial menuju masyarakat equilibrium yang multikultural dalam konteks ini sangat dipertaruhkan demi kamajuan masyarakat, bukan pendukung tata-kekuasaan yang mapan, korup, anti-toleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tepat bila kita melakukan dua agenda besar dalam mensikapi problem kehidupan beragama di Indonesia , khususnya di Jawa Timur. Pertama, Reaktualisasi Toleransi Agama dengan cara menafsir ulang pemahaman kita terhadap makna toleransi agama. Toleransi yang dalam bahasa Arab disebut al-tasamuh sesungguhnya merupakan salah satu jalan alternatif menuju perdamaian dan ia termasuk ajaran inti agama, khususnya dalam Islam. Toleransi sejajar dengan ajaran fundamental yang lain seperti kasih (rahmah), kebijaksanaan (hikmah), kemaslahatan universal (mashlahah ’ammah), keadilan (’adl). Adalah kewajiban setiap umat Islam untuk berseru dan berdakwah tentang prinsip-prinsp ajaran Islam di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu ajaran fundamental, konsep toleransi telah banyak ditegaskan dalam Alquran. Alquran berpandangan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk merajut tali persaudaraan antarsesama manusia yang berlainan agama. Jangan lupa bahwa Tuhan menciptakan planet bumi tidak untuk satu golongan agama tertentu. Dengan adanya bermacam-macam agama, itu tidak berarti bahwa Tuhan membenarkan diskriminasi atas manusia, melainkan untuk saling mengakui eksistensi masing-masing (al-Baqarah: 256, al Hujurat : 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, perlunya pribumisasi toleransi agama dalam level praksis-sosial via mubaligh dan kaum agamawan. Para elite intelektual yang suka gembar-gembor menyanyikan lagu "toleransi dan pluralisme" harus segera turun dari pentas dengan melibatkankan diri secara nyata dalam gerakan toleransi beragama. Dengan cara inilah, maka wacana toleransi tidak hanya melingkar-lingkar secara elitis di kalangan intelektual kota , melainkan justru dapat tembus pada masyarakat akar rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, negara bekerja bersama masyarakat dalam konteks ini juga sangat menentukan damai-konfliknya negeri yang multikultural ini. Oleh karena itu, semua pihak harus terus membahas masalah ini secara holistik. Apabila hal ini tidak segera direspons, maka secara berangsur-angsur akan berdampak besar bagi integrasi bangsa, dan bahkan bisa menjadi ancaman Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini. Wallahu A’lam.***&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-8772602322529575038?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/8772602322529575038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=8772602322529575038' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/8772602322529575038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/8772602322529575038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2007/07/reaktualisasi-toleransi-agama.html' title='Reaktualisasi Toleransi Agama'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-7790247652535265864</id><published>2007-07-20T05:28:00.000-07:00</published><updated>2007-07-20T05:30:53.025-07:00</updated><title type='text'>Reformasi &amp; Ironi Wakil Rakyat</title><content type='html'>Baru-baru ini, tindakan ratusan anggota dewan dari berbagai wilayah di Tanah Air di Gedung DPR Senayan Jakarta menimbulkan reaksi keras. Sebagian warga masyarakat menyebutkan, upaya memperjuangkan dana tunjangan komunikasi anggota DPRD tidak manusiawi. Malahan, sebagian lagi menyebutkan ulah tersebut memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan menuntut pembayaran tunjangan dengan dalih untuk kepentingan konstituen hanya mengada-ada. Ujung-ujungnya, untuk kepentingan diri sendiri. Terbukti, anggota dewan yang mendatangi pimpinan DPR pada waktu itu menyatakan menolak mengembalikan uang rapel dari pemerintah daerahnya. Malahan anggota dewan tersebut akan berjuang untuk tetap mendapatkan dana tunjangan dan komunikasi sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2006. Sungguh sikap yang melukai hati rakyat banyak, yang kini hidup menderita. Langkah para wakil rakyat itu tidak akan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, tidak semua anggota dewan di daerah setuju terhadap sikap rekan-rekannya. Langkah anggota DPRD tersebut merupakan tindakan yang tidak cerdas dan dapat memicu rasa antipati masyarakat. Anggota dewan yang terhormat itu tidak seharusnya bersikap frontal dan berdemonstrasi di gedung DPR. Bukankah ada cara-cara yang lebih santun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan mendatangi gedung DPR justru mengundang rasa antipati masyarakat yang lebih luas. Pertanyaannya, apakah perjuangan anggota legislatif menuntut tunjangan komunikasi juga menjadi garis kebijakan partainya? Kenyataan, pemimpin partai politik tertentu sudah menginstruksikan anggotanya di dewan untuk mengembalikan tunjangan komunikasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, pemerintah hendaknya tak goyah dalam menghadapi tuntutan yang bernada ancaman dari anggota dewan tersebut. Keputusan merevisi peraturan pemerintah itu harus terus berjalan. Malahan, masyarakat menginginkan agar peraturan yang berpotensi menimbulkan korupsi tersebut batal sama sekali. Begitu pula, anggota dewan yang menolak mengembalikan dana rapel harus terkena ketentuan hukum yang berlaku. Paling tidak, mereka sudah melanggar Undang-Undang Anti Korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah arus penolakan masyarakat terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006, seharusnya anggota dewan bersikap arif. Bukan melawan lewat demo mendatangi Ketua DPR RI Agung Laksono. Kemudian, mengeluarkan pernyataan yang melukai hati rakyat. Sikap emosional anggota dewan dari berbagai daerah di Indonesia dapat menimbulkan persoalan baru. Pada akhirnya, kredibilitas para wakil rakyat pun semakin pudar di kalangan konstituennya sendiri. Patutkah anggota dewan itu menyandang predikat wakil rakyat, sedangkan perjuangannya justru menyakitkan rakyat?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ironi Wakil Rakyat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergulirnya angin reformasi memang mengubah secara drastis wajah dan penampilan DPR. Mekanisme pemilihan para anggotanya yang dilakukan melalui pemilu multipartai telah menghasilkan anggota-anggota baru yang terseleksi secara lebih demokratis dibandingkan dengan pada masa Orde Baru. Kehadiran mereka dalam DPR format baru ini membangkitkan harapan bahwa lembaga ini kelak akan memperbaiki diri dalam menjalankan fungsi-fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, berjalannya waktu menunjukkan komitmen anggota DPR untuk berjuang demi rakyat tidaklah maksimal. Boleh dikatakan, komitmen anggota DPR untuk memperbaiki diri, baik kinerja, perilaku, maupun keberpihakannya, belum juga terwujud. Ketidakmampuan wakil rakyat menekan kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik pada awal tahun 2000, penyusunan RUU APP, dan revisi UU ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 adalah salah satu kabar buruk betapa DPR kita tidak mampu mewujudkan peran sebagai penyambung "lidah rakyat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru yang terjadi adalah sebaliknya, ia menjadi "musuh" rakyat, betapa tidak boleh disebut demikian bila membuat aturan untuk memperkaya diri dan kelompok, membuat RUU yang tidak memihak buruh sebagaimana yang tertera dalam draftnya. Demikian pula terjadi pada RUU APP yang tidak responsif pada masyarakat Bali, misalnya, yang sering dikunjungi turis akan terhambat kemajuan ekonomi dan wisata akibat RUU APP, maka wajar jika semua masyarakat kebanyakan menolak RUU APP dan Revisi UU ketenagakerjaan tersebut. Maka tidak salah bila Amien Rais menyebut DPR sebagai tukang stempel saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayang-bayang ketidakpuasan publik terhadap kinerja DPR dalam menyuarakan aspirasi rakyat rupanya terus menyeruak seiring perjalanan waktu. Sejak Mei 2001 angka ketidakpuasan responden terhadap kinerja DPR ini meningkat hingga 72,4 %. Bahkan, pada akhir tahun 2002 jumlah responden yang tidak puas meningkat tajam hingga 86,6 %. Hingga akhir masa jabatannya boleh dikatakan anggota DPR periode 1999-2004 masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah mereka dalam menyuarakan aspirasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, dalam melakukan fungsi kontrol terhadap pemerintah, kewenangan politik yang dimiliki DPR periode 1999-2004 dianggap terlalu berlebihan. Ia menjadi lembaga yang superior, kontrolnya terhadap pemerintah berlebihan sehingga pemerintah tidak bisa menjalankan tugas-tugasnya secara maksimal. Bahkan, terkesan sebagian besar energi DPR saat itu digunakan untuk bertarung melawan pemerintah sehingga mengabaikan tugas-tugas pokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan DPR sebelumnya yang dinilai terlalu kuat terhadap pemerintah, DPR saat ini (2004-2009) dinilai sebaliknya, terlalu lemah terhadap pemerintah. Beberapa kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat dan negara, seperti kenaikan harga BBM di atas 100 persen, impor beras, kontrak karya penambangan oleh Freeport dan ExxonMobil, menjadi indikator ketidakberdayaan DPR mengontrol pemerintah. Ketidakpuasan rakyat juga tercermin pada kinerja DPR dalam membuat undang-undang (UU). Dugaan adanya kepentingan segelintir orang daripada kepentingan seluruh masyarakat mulai dirasakan publik sejak awal. Kondisi ini diungkapkan Sultani dalam hasil jajak pendapat Kompas bulan Mei 2006, bahwa 59,8 % responden yang tidak puas dengan kinerja DPR dalam membuat UU yang aspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sewindu reformasi bergulir, publik mulai menyangsikan komitmen DPR mewujudkan perjuangan reformasi. Keengganan DPR menyentuh persoalan-persoalan yang menjadi tuntutan reformasi boleh jadi mencerminkan sikap DPR yang mendua dalam mereformasi dirinya. Publik lalu tidak lebih hanya sebagai korban reformasi. Jika realitasnya terus demikian, maka jelas, pupus sudah harapan rakyat untuk menggantungkan nasib dan aspirasinya terhadap wakil rakyat, padahal banyak pihak yang menggantungkan harapan pada saat bergulirnya gerakan reformasi satu dasawarsa silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti ini, kita boleh mengatakan bahwa reformasi sesungguhnya telah mati suri. Lantas bagaimana yang harus diperbuat? Menurut hemat penulis, agenda mendesak yang perlu diselesaikan adalah bagaimana agar demokrasi yang tengah mati suri itu bisa bangkit dan hidup kembali secara wajar. Sebab, jika demokrasi yang mati suri itu dipelihara dan diberi terapi yang memadai, maka akan ada peluang untuk membuatnya hidup kembali, menjadi segar-bugar dan sehat-walafiat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-7790247652535265864?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/7790247652535265864/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=7790247652535265864' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/7790247652535265864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/7790247652535265864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2007/07/reformasi-ironi-wakil-rakyat.html' title='Reformasi &amp; Ironi Wakil Rakyat'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3554734154253632125.post-7745448554342307474</id><published>2007-07-15T10:54:00.000-07:00</published><updated>2007-07-15T10:55:54.641-07:00</updated><title type='text'>Bring Islam down to Earth</title><content type='html'>Choirul Mahfud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Indonesia – British Prime Minister Tony Blair recently visited Indonesia to promote better bilateral cooperation between the two countries. In addition to this agenda, his visit was also intended to encourage dialogue between the British government and Muslim leaders in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialogue between the Muslim world and the West is indeed necessary and has been gaining momentum since the 9/11 attacks. Blair described Indonesia as a "crucial partner" in ensuring greater understanding between people of different faiths. It isn’t only because Indonesia has the largest Muslim population in the world, but also because both countries have suffered from terrorism and have a common interest in defeating it. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia is the first developing country that was blown over by the wind of global terrorism. Only one year after the 9/11 attacks, this country wept for the tragedy of the first Bali bombings. The country has also faced a rise in fundamentalism and the resulting intergroup or interpersonal conflicts since the birth of the Reformation Era in 1998, after President Suharto stood down in response to a wave of protests calling for democracy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realizing that the situation is critical, some Indonesian Muslim leaders and intellectuals shared their understanding of the roots of Muslim-Western discord at a recent seminar at Airlangga University, entitled "Islam and the West: Building Inter-Civilization Dialogue". Achmad Syafi'i Ma'arif , the former chairman of Muhammadiyah - a large, Islamic non-profit organization in Indonesia - believes that existing conflicts between the Muslim world and the West are due to the former having fallen behind the West in “the race of civilizations”, or our post-Enlightenment global hierarchy. He adds, however, that a widespread misinterpretation of Islamic teachings is also to blame.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Director of the Institute of Progressive Islamic Studies (LSIP) in Jakarta, Zuhairi Misrawi, maintains that the clash between Islam and the West can be traced back to stories and stereotypes derived from historical confrontations, such as the Crusades. He attributes this to a lack of knowledge about the fundamental theology and moral principles of both Islam and Christianity, and to an economic and political imbalance between the Muslim world and the West. These factors, says Misrawi, should in reality act as grounds for dialogue and for more assimilation between the two conflicting sides. And indeed, in today’s interconnected and therefore smaller world, it is difficult for Islam and the West to avoid each other. They can't help but bump into each other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Both Muslim and Western societies have contributed to any clash of civilizations they may be experiencing, and so both must contribute for a meaningful dialogue of civilizations to occur. But for dialogue to be an option, both parties must face and accept their differences. The West has no right to subject Muslims to its way of thinking or ideologies. And Muslims have no right to impose Islamic teachings on the West. If dialogue is going to happen, both parties need to learn how to sit and talk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A similar challenge confronts Indonesia, where a debate is taking place over the implementation of Islamic law. There are two conflicting approaches. Those who do not support the implementation of Islamic law argue that Indonesia is a multi-religious and multicultural country, where each faith has different and unique values: for this group, only universal values that are shared by each religion, such as justice, empowerment and egalitarianism, must be maintained. The supporters of the implementation of Islamic law, on the other hand, want Islamic law to control and counteract the existing governing system, which has adopted a secularist, liberal-capitalist ideology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Despite sharing the same goal, namely the realization of social justice, the approach can be very polarizing. One wants to achieve the goal by formalizing Islamic laws and the other cares more for the implementation of these laws in essence.&lt;br /&gt;Demographically speaking, we Muslims may be “entitled” to more than others since we do represent the majority. Should we choose to, we could obtain what we wanted through a simple vote. However, in a multicultural society, such behaviour would put non-Muslims in a precarious position. The question is: do we really want to do this?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately, there are many Muslim groups in Indonesia which feel that based on numbers alone, they should be able to implement the laws they choose. They tend to be “religious in statistics." Many incidents demonstrate how "statistics" are exploited to demand things. Claiming to stem from the majority, these groups demand the formalization of Islamic laws, like the use of the scarf, for example. To some extent, one of the primary causes of various religious incidents in Indonesia begins with the superiority of the statistic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But there are implications of this numbers-based approach. Groups can engage in what Pierre Bourdieu coined “symbolic violence” in his book, Reproduction in Education, Society and Culture (1970). Symbolic violence occurs when a certain group forces its symbols and value systems (such as religion) onto another group. Legitimization of the majority is often an effective weapon of this effort, shifting the balance so that power relations are not perceived objectively, but as a natural order.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is time for Muslims all over the world, particularly in Indonesia, to leave behind the numbers-based religious model, and begin to demonstrate religiosity. This requires bringing Islam down to earth - upholding amr ma'ruf, nahi munkar (enjoying what is just, forbidding what is wrong): being polite, defending the oppressed, helping the poor, rejecting violence, fighting corruption and terrorism, and spreading peace throughout their country, and the world.&lt;br /&gt;* The writer is Executive Director of the Institute for Religion and Social Studies (LKAS) Surabaya, Muhammadiyah University of Surabaya lecturer in Islamic studies, and writer of Socialist Islam and Multicultural Education.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Common Ground News Service (CGNews), 3 October 2006, www.commongroundnews.org Copyright permission has been obtained for publication. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3554734154253632125-7745448554342307474?l=choirulmahfud.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/feeds/7745448554342307474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3554734154253632125&amp;postID=7745448554342307474' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/7745448554342307474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3554734154253632125/posts/default/7745448554342307474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://choirulmahfud.blogspot.com/2007/07/bring-islam-down-to-earth.html' title='Bring Islam down to Earth'/><author><name>Choirul Mahfud</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10974691450885613224</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='04973993152628049919'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>