type='text/javascript'/>

Choirul Mahfud Marsahid

"berbagi adalah ibadah. this web for sharing".

Tuesday, April 24, 2012

Tipologi Ulama Indonesia Kontemporer: Sebuah Tinjauan Ideologi-Praksis

Antonio Gramsci (1971) menyatakan bahwa: "All men are intellectuals, but not all men have in society the function of intellectuals." Pernyataan pemikir besar asal Italia Antonio Gramsci tersebut, memang bukan ditujukan langsung kepada ulama. Namun istilah “intellectuals” yang dipakai Gramsci bisa saja dipahami diantaranya sebagai “ulama”. Pasalnya, “ulama” juga memiliki peran besar bagi masyarakat muslim di dunia, termasuk di Indonesia. Sejarah telah mencatat, ulama acapkali disandingkan dengan umara. Dimana posisi dan peran ulama ibarat pemimpin “tidak formal” dalam suatu negara bagi umat pada kondisi tertentu. Di Indonesia, ulama memiliki posisi dan peran yang tidak kecil sejak sebelum hingga sesudah kemerdekaan sampai saat ini. Hal itu nampak dari rekam jejak sejarah institusi ulama di negeri ini. Dari Sabang sampai Merauke, istilah ulama telah memiliki sebutan bermacam-macam. Misal saja, ada sebutan Kiai di Jawa, Tengku di Aceh, Ajengan di Sunda, Buya di Minangkabau, Syeikh di Sumatera Utara, Tuan Guru di Lombok NTB dan lainnya.
Sebetulnya, membicarakan ulama di Indonesia bukan sesuatu yang baru. Karena, tema ini sudah pernah dikaji dan diteliti oleh para akademisi dan pemerhati Islam Indonesia. Baik dari unsur insiders maupun outsiders. Namun karena persoalan ulama bukanlah sesuatu yang sudah final melainkan terus menerus berproses seiring gerak dan dinamika zaman. Maka, rasanya tepat bila topik ini diulas kembali untuk mengambil elan vitalnya. Dari sinilah, membincang ulama Indonesia kontemporer tak bisa dilepaskan dengan sejarah sosial intelektual ulama dari masa ke masa. Azyumardi Azra memberi catatan penting bahwa sejarah asal usul dan perkembangan ulama di kawasan nusantara sangat dipengaruhi oleh jaringan ulama Timur Tengah. Di mata Azra, ulama di Indonesia merupakan bagian jaringan penghubung antara Islam di kawasan Arab dan Indonesia. Mengutip pendapat Azyumardi Azra, Silfia Hanani dalam artikelnya “Gambaran ringkas ulama dan penyebaran Islam di Nusantara”, menjelaskan bahwa hubungan muslim Nusantara dan Timur Tengah terhubung sejak Islam berkembang di Nusantara. Berdasarkan studi Azyumardi Azra, ungkap Hanani, hubungan itu bersifat politis dan keilmuan. Hubungan politis terjalin antara sejumlah kerajaan di Nusantara dengan Dinasti Utsmani. Tercatat bahwa Aceh, Banten, Mataram, telah mengirimkan utusan ke Haramain (Mekkah-Madinah) sejak abad ke-17. Selain berhaji, mengutip pendapat Azra, Hanani mengungkap bahwa mereka juga membawa gelar “Sultan” dari Syarif Mekkah (penguasa Mekkah). Istilah “sultan” di Jogjakarta atau lainnya, bisa jadi tak bisa dilepas dari sejarah tersebut. Selain politis, hubungan keilmuan nampak sedari dulu. Terutama, ketika dinasti Utsmani mengamankan jalur perjalanan haji, berdampak pada kian banyak pula yang menuntut ilmu pada abad ke-14 hingga ke-15 di negeri Timur Tengah. Barangkali, dari latar inilah yang mendorong munculnya komunitas Jawi. Yaitu, sebuah komunitas bukan saja untuk menyebut mereka yang berasal dari Jawa. Namun juga, untuk menyebut orang-orang yang berasal dari Nusantara, bahkan Asia Tenggara, pada saat itu. Secara umum, ulama di Indonesia kontemporer bisa dipahami dalam tipologisasi ideologi-praksis berikut ini: Pertama, Tipologi Ideologis. Secara ideologis, tipologi ulama Indonesia kontemporer, yaitu: Ulama Radikal, Ulama Moderat dan Ulama Kosmopolitan. Ulama Radikal adalah sebutan untuk ulama dan tokoh muslim yang memiliki pandangan dan ideologi radikal. Sedangkan, Ulama moderat merupakan sosok ulama yang pemikiran dan pandangan hidupnya cenderung lebih moderat. Sementara, ulama Kosmopolitan yaitu ulama yang cenderung berpikir dan bertindak secara global sekaligus juga lokal. Kedua, Tipologi Praksis. Secara praksis-gerakan, tipologi ulama Indonesia kontemporer bisa diklasifikasi, yakni: Ulama tradisional dan Ulama organik. Istilah ulama tradisional dan organik dipinjam dari istilah yang dipakai Antonio Gramsci yang menyebut intelektual tradisional dan organik, karena posisi dan peran seorang intelektual. Dalam konteks ini, ulama tradisional dimaksudkan untuk menyebut sosok ulama yang hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok semata. Sementara ulama organik merupakan sosok ulama yang berperan dalam segala aspek kehidupan beragama dan bernegara dengan menjunjung idealisme demi tegaknya kebajikan, keadilan dan kamaslahatan. Pertanyaannya, siapa saja dan dimana posisi ulama yang anda ketahui saat ini?*** By: Choirul Mahfud, Direktur Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS Surabaya)

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More